Cerita Sex Retrograde Travelers [by Dian Barra] – Part 2

Cerita Sex Retrograde Travelers [by Dian Barra] – Part 2by adminon.Cerita Sex Retrograde Travelers [by Dian Barra] – Part 2Retrograde Travelers [by Dian Barra] – Part 2 Retrograde Travelers Dian Barra D R E A M Aaahhh.! Aku terlonjak bangun sampai terduduk. Sejenak mataku mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya temaram apartemenku. Aku melirik ke arah jam dinding, masih jam empat subuh. Aku mengusap wajahku yang dipenuhi peluh, padahal kamarku dingin ber-AC. Aku mengeluh pelan, menyingkap […]

multixnxx-Black hair, On top, Asian, Gonzo, Pornstar-6 multixnxx-Black hair, On top, Asian, Gonzo, Pornstar-8Retrograde Travelers [by Dian Barra] – Part 2

Retrograde Travelers
Dian Barra

D R E A M

Aaahhh.!

Aku terlonjak bangun sampai terduduk. Sejenak mataku mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya temaram apartemenku. Aku melirik ke arah jam dinding, masih jam empat subuh. Aku mengusap wajahku yang dipenuhi peluh, padahal kamarku dingin ber-AC. Aku mengeluh pelan, menyingkap selimut dan dengan perlahan memindahkan tangan dan paha yang sejak tadi memelukku dalam lelapnya.

Aku kemudian berjalan ke arah kulkas, kembali mengambil light beer dan meraih mild serta Zippy, lalu melangkah ke arah balkon. Seketika hawa dingin namun pengap milik Jakarta menerpa wajahku. Aku kembali menutup pintu, lalu melangkah mendekati railing balkon. Aku letakkan sebatang mild di bibirku, lalu trriingg Zippy melaksanakan tugasnya.

Aku memandang ke bawah, menatap Jakarta yang tampaknya sudah mulai terbangun, atau malah belum sempat tidur. Aku merenung sambil menatap ke bawah sana, dari lantai 22 apartemenku, memikirkan mimpi yang baru saja aku alami.

Mimpi itu lagi. Itu lagi dan lagi. Terus saja berulang selama bertahun-tahun, mimpi yang sama seakan menjadi hantu bagiku. Aku mengeluh, tak ada yang istimewa sebenarnya dari mimpi yang aku alami, hanya seperti potongan-potongan gambar yang melintas cepat, berputar berulang-ulang. Seakan memaksaku untuk mengingat sesuatu, sehingga harus tampil berulang kali dalam satu mimpi, dan mimpi yang selalu sama di setiap malamnya selama enam tahun ini.

Dan sukses membuatku terjaga dari tidurku, dan susah untuk tidur lagi karena biasanya kepalaku langsung pening, mirip migrain.

Sepasang tangan mulus dan lembut memelukku dari belakang. Aku menoleh, menatap gadis bertubuh bugil dan hanya menggelungkan selimut di tubuh bugilnya yang mempesona. Kirana rupanya juga terbangun.

Gak bisa tidur? tanyanya padaku. Aku mengangguk.

Bermimpi lagi? Kembali aku mengangguk.

Kirana semakin mempererat pelukannya, menyertakan aku dalam gelungan selimut yang dikenakannya. Aku meraih tangannya, mengarahkannya ke puting susuku.

Tidur lagi, sana. suruhku.

Tanggung Udah mau pagi, aku mau langsung ke kantor aja dari sini jawabnya. bagi dong, rokoknya. Katanya sambil melepaskan pelukannya, melangkah ke arah kursi santai yang mirip dengan kursi yang biasa ada pinggir kolam renang. Aku mengikutinya. Memantikkan Zippy untuknya.

Ada yang baru? tanyanya sambil mengambil light beer dari tanganku dan meminumnya seteguk.

Gak ada Masih itu-itu aja

Aneh ya Kenapa mimpi yang sama selalu berulang terus setiap kamu tidur katanya perlahan sambil menerawang menatap langit subuh.

Mungkin karena hanya cuma itu yang bisa aku ingat

Atau memintamu untuk mengingat sesuatu.

Mungkin juga

Jadi, masih belum tahu makna dari mimpi itu? Samasekali belum ada yang teringat?

Aku menggelengkan kepala. Hanya bikin aku migrain

Kirana meraih tanganku, dan aku menoleh padanya yang tersenyum menatapku. Sabar, ya Suatu saat pasti kamu akan bisa mengingatnya lagi

Semoga Makasih ya jawabku sambil membalas senyumnya. Lalu kami kembali terdiam, menikmati kepulan asap mild dan join minum light beer.

Mandi, yuk? ajaknya sambil berdiri.

Aish, males Dingin, tauk

Yakiiin.? godanya sambil menyingkap gelungan selimut dari tubuhnya, memperlihatkan vagina tanpa bulu dan gunung kembar 36D, sambil melangkah masuk.

Aku matikan rokokku, meneguk sekali tandas sisa light beer dan mengejarnya ke dalam.

=separator=

Kami saling berpagutan di bawah guyuran hangat air shower. Aku memeluk Kirana erat, sambil terus meremas buah dadanya yang besar dan kencang. Kirana memeluk leherku dengan erat, saling melumat sambil sesekali menyelusupkan lidah.

Aku membalik tubuh Kirana hingga memunggungiku, lalu menekan tengkuknya hingga dia menungging, dan aku mengarahkan batangku ke lipatan vaginanya.

Perlahan, batang kerasku sudah mulai menelusup, membelah vaginanya terus hingga menghabiskan seluruh persediaanku yang hanya delapan belas centi itu. Untung bijinya gak ikut masuk.

Aaahhhhh. desah Kirana keras, menikmati penetrasi batangku.

Aku mulai menggenjot batangku dari belakang. Suara beradunya perutku dengan bongkahan pantat Kirana terdengar bersahutan dengan desahnya yang membahana.

Kiiiiddd. Pelaaaan.

Aku tak peduli, bahkan semakin keras menggenjotnya dari belakang. Tangan Kirana menjulur ke belakang, mencoba menahan sodokanku.

Wooooyy Pelaaaaannn. Gila lo ya Masih ngilu neeeh Baru lo perawanin langsung maen genjot aja lo

Aku tertawa, Kirana memang begitu. Bicara semaunya, karena dia memang sangat dekat denganku. Aku semakin menghentakkan pinggulku, tak cepat saat menarik tapi menghentak saat masuk. Kirana semakin gak karuan mendesah. Pantatnya mulai maju mundur mengejar batangku.

Aku tertawa. Katanya di suruh pelaan. kataku sambil menampar pantatnya pelan.

Aaawww Reseh lo omel Kirana sambil terus menghentakkan pantatnya.

Kembali aku menggenjot Kirana dengan cepat, Kirana sekarang terlonjak menerima genjotanku.

Aaahhh Aaahhh. Gilaaaaa. Enaknyaaaaa. Terus, Kiiiiddd. jeritnya menyemangatiku.

Aku meraih buah dadanya dari belakang. Kini aku bertumpu pada dua buah mengkal itu sebagai peganganku, sambil mempercepat hentakan pinggulku. Batang kerasku semakin heboh keluar masuk liang cinta Kirana.

Raaan,,, Gue mau nyampeee. desahku.

Barengan. Gue juga dikit lagi yang dalem, Kid

Aku melepaskan penisku, membalik tubuh Kirana menghadapku, dan aku memasukinya lagi, menggila menggenjoti Kirana, hingga desahan keras kami saling bersahutan.

Aaaahhh. Nyampeeee.. jerit Kirana

Aku terus menggenjotnya, aku juga sudah hampir sampai di ujung. Kirana mengejang karena orgasme yang melandanya. Akhirnya hampir satu menit, aku tak tahan lagi. Aku segera menarik batangku, dan menekankan kepalanya ke liang dubur Kirana sambil mengocoknya cepat.

Aaaahhh Gue nyampe, Naaa. teriakku tertahan nikmat.

Kirana segera merunduk, mengusir tanganku dari batangku tersayang, langsung mencaploknya dengan mulutnya, dan maju mundur menghisapnya dengan cepat. Aku meraih kepala Kirana, menekannya hingga kepala batangku mentok di kerongkongannya dan berkedut keras.

Aaaahhhhh. Aku sampai terlonjak, pinggulku agak tersentak dan batangku agak menekan dalam mulut Kirana semakin dalam.

Kirana mulai mengemuti batangku dengan pelan, memerah semua isinya supaya habis terkuras sambil matanya menggoda menatapku penuh birahi. Aku merinding geli dibuatnya.

Kirana melepaskan batangku setelah yakin tak ada lagi yang keluar, dan berdiri memelukku, mencium bibirku.

Enak? tanyanya sambil menciumku.

Banget. Kataku sambil tersenyum.

Kalo enak banget, kenapa gak dari dulu kamu ambil? tanyanya sambil tersenyum menggodaku.

Kalo diambil dari dulu, gak enak Kamu masih mentah jawabku asal.

Kirana tertawa, lalu kembali melumat bibirku dengan penuh mesra.

Kami lalu mandi bersama. Saat keluar dari kamar mandi, sinar mentari mulai menerangi Jakarta. Sudah jam enam, ternyata.

Sudah pagi aja kata Kirana pelan sambil melepas handuknya, dan melemparkannya padaku. Lalu Kirana membuka lemari pakaianku, dan mengambil sebuah kemeja lengan panjang berbahan flanel milikku.

Langsung ke kantor? tanyaku sambil mengeringkan tubuh dengan handuk yang dipakai Kirana tadi.

Ke butik dulu Jam sembilan saja ke kantornya

Kalo gitu, kita sarapan saja dulu Nanti jam tujuh barengan aku saja berangkatnya, sekalian aku nyusul Papa ke bandara. kataku sambil melangkah juga ke lemari pakaian.

Papa pulang hari ini? tanya Kirana sambil berbalik menatapku, mengancingkan kemeja yang dipakainya.

Iya Emang kamu gak di kasih tau? jawabku sambil melepaskan handuk yang aku pakai, dan mulai mengenakan pakaianku di samping Kirana.

Landing jam berapa? tanya Kirana sambil mencolek batangku yang menggelayut lemas. Aku sampai terlompat kaget karena saat itu aku tak melihat karena kepalaku tertutup saat memakai kaos.

Heh, maen colek aja Nongol di pesbuk baru tahu rasa lo omelku karena kaget.

Hahaha. Kirana Poke Bangkids Penis. Kirana ngakak mendengar omelanku.

Poke Back balasku sambil meremas boobsnya.

Woooyyy Itu mah bukan pokeee Itu squeezzzz jerit Kirana sambil mengejarku, mencoba meraih batangku. Gantiaaaannn Gak mau gue, rugi kalo gak gantian.

Aku tertawa ngakak, langsung kabur menjauhkan batang kesayanganku dari serangan maut Kirana. Akhirnya kami jatuh berhimpitan di atas tempat tidurku.

Kirana kembali melumat bibirku dengan lembut.

Short time.? tanyaku saat birahiku mulai naik lagi.

Gak sempat, ah jawab Kirana sambil terus menciumku. Nanti malam aja aku nginep lagi, ya?

Tapi ada Papa

Kirana melepaskan ciumannya. Iya juga, ya katanya sambil berpikir. Ya udah, gampang deh Gimana nanti aja. katanya sambil berdiri, dan meneruskan berdandan.

Aku menatap Kirana sambil tetap tiduran.

Bilang Papa ya, kalo beliau sempat kita makan siang bareng. kata Kirana sambil mengikat rambutnya.

Di mana? tanyaku.

Di butik aja, Mama juga mau ke butik nanti siang Jam satu?

Deal Nanti aku coba bilang ke Papa Semoga beliau gak delay dan gak ada acara lagi siang nanti jawabku sambil bangkit dari tempat tidur, meneruskan memakai pakaian.

Tak lama kemudian kami pun sudah berangkat, membelah jalanan Jakarta yang ramai tapi masih belum macet, menuju butiknya Kirana di daerah Puri. Setelah selesai mengantarkannya, aku langsung mengarahkan mobilku menuju bandara.

End Of Chapter 1

Thanks

Author: 

Related Posts