Cerita Panas Berbagi Suami Bule – Part 23

Cerita Panas Berbagi Suami Bule – Part 23by adminon.Cerita Panas Berbagi Suami Bule – Part 23Berbagi Suami Bule – Part 23 DAMN IT, IM NOT INVITED By : Marucil Kunyalakan keran air dan basahi seluruh tubuhku dengan air hangat. Mandi pagi dengan air hangat memang begitu menenangkan pikiran dan menyegarkan badan. Seluruh penat dan lelah seharian kemarin ikut mengalir bersama derasnya air. Selesai mandi kukenakan pakaian yang kukenakan semalam, kukenakan […]

multixnxx-Black hair, Face-sitting, Asian, High heel-2 multixnxx-Black hair, Face-sitting, Asian, High heel-3 multixnxx-Black hair, Face-sitting, Asian, High heel-4Berbagi Suami Bule – Part 23

DAMN IT, IM NOT INVITED
By : Marucil

Kunyalakan keran air dan basahi seluruh tubuhku dengan air hangat. Mandi pagi dengan air hangat memang begitu menenangkan pikiran dan menyegarkan badan. Seluruh penat dan lelah seharian kemarin ikut mengalir bersama derasnya air. Selesai mandi kukenakan pakaian yang kukenakan semalam, kukenakan juga wewangian agar menambah semangat dipagi ini.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat Zaskia masih saja berbaring ditempat tidur. Sejak aku masuk kedalam kamar mandi posisinya tak banyak berubah. Mungkin ia lelah oleh aktifitasnya kemarin. Konser. Seharian penuh ditambah dengan aktifitas terselubungnya, jelas saja dia begitu kelelahan pagi. Aku berinisiatif membuatkanya the hangat. Setelahnya kuhampiri dia dan kuberikan secangkir the yang sudah kubuat.

“Nih Teteh buat ngangetin badan” kataku seraya menyodorkan secangkir teh padanya.

“Makasih ya, perhatian banget sih kamu, pasti cewenya seneng deh punya cowok kaya kamu Bas.” Pujinya sambil menerima gelas dariku.

“Ah Teteh ini bisa aja, aku mah gak punya pacar, lagian mana ada cew yang mau sama cowo pendek kaya aku.” Kataku merendah sambil diuduk disisi tubuhnya.

“Tapi neng lihat kamu cukup ganteng kok, pasti ada lah yang naksir” tanyanya lagi.

“Kalau naksir sih ada Teh, tapi belum ada yang cocok aja mungkin” jawabku.

“Ohh, Yah kalau jodoh mah nanti juga nemu sendiri kok, yah gak bas?” Katanya menyemangati.

“Teteh sendiri udah punya pacar belum?”Kataku balik bertanya.

“Eneng mah gak mikirin jodoh dulu Bas, mending karir dulu. Kalau yang deketin sih banyak tapi yaa.. Pikir pikir dulu lah biar dapet yang terbaik” jawabnya.

“Kalau itu aku setuju teh. Namanya Jodoh gak bisa dipaksa dan harus berhati hati.”

Akhirnya obrolan singkat kita pagi ini berkutat pada percintaan. Walau tidak panjang lebar, aku dapat menyimpulkan Teteh Zaskia masih dalam status single atau belum memiliki kekasih. Tetapi aku cukup salut dengan pilihannya, yang mendahulukan karir ketimbang asrama. Mungkin itulah yang dipikirkan semua pelaku seni seperti Zaskia ini.

Setelah obrolan singkat tentang cinta, akupun berpamitan dengan Teteh Zaskia. Terlebih aku baru ingat kalau kunci kamar aku yang memegang. Pasti semalam Tante Elin mencariku kenapa aku tak kuncung kembali ke kamar Bang Robert. Akhirnya aku bergegas menuju kamar Bang Robert. Tetapi sebelumnya aku memastikan mengecek kamarku terlebih dahulu, dan benar saja kamarnya masih dalam keadaan kosong.

Mumpung masih dikamar aku ada kesempatan mengganti pakaian, karena pakaian yang aku kenakan sekarang sudah begitu lengket oleh peluhku semalaman. Kukenakan Kaos hitam yang kubawa diTas dan kulepas juga celana dalamku karena aku tidak nyaman mengenakan celana dalam yang kotor oleh air maniku sendiri. Setelah cukup rapi aku kembali bergegas menuju Kamar Bang Robert, pasti semalam Tante Elin tidur disana. Aku jadi merasa tidak enak dengan Tante Elin terlebih dengan Bang Robert. Tapi mau gimana lagi semalam aku begitu lelah dan mengantuk. Sehabis permainanku dengan Zaskia, aku langsung tertidur dengan Pulas.

Kulihat hilir mudik para cleaning servise yang tengah melakukan tugas pokoknya dipagi hari. Kulihat juga para room boy tengah sibuk mengantarkan makanan pada semua tamu. Rupanya roda kegiatan di Hotel ini sudah berjalan. Begitu banyak orang sibuk dengan urusanya masing masing. Tetapi walau dalam kesibukanya, para karyawan disini tidak pernah sedikitpun melupakan untuk memberi senyum pada seluruh tamunya. Sepanjang aku berjalan menuju kamar Bang Robert semuanya tersenyum kepadaku walau kutahu mereka tengah sibuk oleh pekerjaanya.

Akhirnya aku sampai didepan pintu kamar Bang Robert. Tidak seperti semalam, pagi ini tidak ada seorang pengawalnya yang berjaga didepan pintu. Kulihat begitu sepi dan tak ada seikitpun suara terdengar dari dalam. Apa bang Robert masih tertidur. Tetapi kucoba memencet bel saja, siapa tahu ia sudah bangun juga. Kutekan Bel yang terletak disebelah kanan. Beberapa kali kutekan dan kutunggu tidak ada yang membukanya. Lalu Tak beberapa lama akhirnya ada seseorang yang membukakan pintu, kupikir itu Pengawal Bang Robert dengan badan tinggi kekar dan muka yang begitu sangar. Tetapi yang kulihat malah sesosok wanita dengan rambut diikat dengan setelan lingery hitam yang begitu menerawang hingga dapat kulihat samar keindahan didalamnya.

“Eh ternyata Nak Bastian. Ayo masuk” ajaknya.

“Iii Iyaa bu Arum makasih” Aku menjawabnya sambil terpana memandang tubuhnya.

“Semalam kemana saja, kok gak balik lagi sih? Robert sama Jeng Elin nyariin tuh” Katanya sambil berjalan disampingku.

“Anu Bu saya semalam ketiduran, tadi baru aja bangun terus langsung kesini, Bu Arum semalam tidur disini?” Tanyaku sambil duduk disofa mengikutinya.

“Iya semalam Ibu tidur disini, habis males juga kalau tidur sendirian.” Jawabnya sambil merapikan posisi duduknya.

“Terus Bang Robert sama Tante Elin mana Bu?” Tanyaku lagi.

“Tuh masih dikamar, semalaman mereka ML baru pada tidur jam 5 tadi. Kamu sih ditungguin gak balik balik, akhirnya Bang Robert main sendiri tadinya mau ngajak kamu juga tuh” jelasnya.

“Heheh, habis gimana lagi Bu semalem saya ngantuuk banget, jadinya ketiduran deh sampe pagi.” Jawabku.

“Hmmm sayang banget, coba semalem kamu balik lagi jadi bisa ikutan” terang Bu Arum

“Ikutan apa memangnya bu?” Tanyaku tak mengerti.

“Sebentar”

Bu Arum meninggalkanku dia berjalan menuju meja didekat kamar utama untuk mengambil tas jinjingnya. Saat ia berjalan aku dapat dengan mudah melihat bokongnya yang menerawang dibalik Lingery yang ia kenakan. Aku tak tahu kenapa belia mengenakan pakaian seperti itu pagi ini. Namun yang pasti, ternyata tubuhnya masih terlihat bagus dan menawan meskupun usianya sudah tak lagi muda. Namun yang membuatku jauh lebih tertarik, ternyata Bu Arum memiliki kebiasaan yang sama persis dengan Tante Ocha yaitu memanjangkan dan merawat bulu jembut. Apakah semua wanita berumur memiliki kebiasaan yang sama yah, sepintas aku memikirkan hal itu.

Memang bulu bulu halus nan lebat di seputar selangkangan Bu Arum begitu mengingatkanku terhadap Tante Ocha. Tapi ada beberapa pembeda diantara mereka berdua. Bu Arum jauh lebih kurus dan payudaranya ternyata jauh lebih kecil ketimbang milik Tante Ocha. Aku terus memandangi tubuhnya yang tengah disibukan mencari sesuatu didalam Tasnya. Akhirnya ia kembali lagi sambil membawa sebuah smartphone. Ia duduk kembali disisiku lantas sibuk memainkan gadgetnya. Setelahnya ia memberikan Handphonya kepadaku dan menyuruhku melihatnya

“Nih kamu lihat, kamu bakal nyesel deh karena semalam gak ikut.” Katanya
“Apaan ini Bu?” Tanyaku bingung.

“Udah lihat aja dulu” Lanjutnya.

Akhirnya aku menuruti permintaanya. Kubuka layar smartphonya dan kulihat sebuah gambar yang membuat mataku langsung membelalak. Kulihat dilayar gambar seorang wanita gemuk yang tengah diikat seluruh tubuhnya dengan Tali. Ku coba menggeser dan melihat gambar selanjutnya dan gambar yang kulihat masih sama seperti sebelumnya. Bahkan wanita dalam gambar itu yang tak lain adalah Tante Elin tengah di keroyok oleh Bang Robert dan kedua pengawalnya. Rupanya semalam Bang Robert menjadikan Tante Elin sebagai objek fantasi BDSMnya. Aku tak menyangka melihatnya. Kulihat muka Tante elin begitu memelas dan dapat kurasakan rintihan kesakitan. Namun melihat itu justru mebuatku sedikit bersemangat. Aku semakin tertarik melihat foto foto yang ternyata cukup banyak didalam Handphone Bu Arum.

“Jadi semalam Bang Robert habis ngelakuin kaya gini Bu?” Tanyaku
“Iya, pasti kamu nyesel kan Nak Bastian gak ikutan” kata Bu Arum.

Aku tidak begitu memperhatikan perkataan Bu Arum karena aku tengah asik melihat gambar gambar Tante Elin yang tengah disiksa oleh Bang Robert dan kedua Pengawalnya yang begitu bengis. Gambar demi gambar memperlihatkan bagaimana panasnya prosesi yang terjadi semalam diruangan itu. Namun setelah kulihat lagi ternyata tidak hanya dilakukan didalam kamar utama saja, namun juga dilakukan diruang Tamu dan juga kamar mandi. Sungguh gila fantasi Bang Robert ini. Dan memang ada sedikit rasa penyesalan kenapa aku tidak ikut secara langsung semalam.

“Kamu gak marah atau cemburu kan Jeng Elin dikaya gituin?”
“Kenapa harus Marah Bu?” Jawabku singkat dan kembali melihat gambar layar.

“Ya Nak Bas kan simpenanya Jeng elin bukan?” Tanya dia penasaran.
“Oph bukan bu, lagian Saya sama Tante Elin itu juga baru ketemu dan kenal kemarin siang.” Jawabku menjelasku.

“Ohh, Ibu pikir Nak Bastian itu pacarnya Jeng Elin, ternyata bukan yah” Jawab Bu Arum sembari menarik bibirnya kesamping.

“Hehe, bukan Bu. Ini yang motoin ibu ya? Ngeri sih ngelihatnya si Tante Elin diiket iket gitu, tapi kayanya seru ya bu?” Tanyaku penasaran.

“Bukan seru lagi Nak Bas, tapi bener bener memacu adrenalin. Coba aja kamu semalam bisa ikut pasti itu jadi pengalaman menarik dalam hidup kamu Nak.” Jelasnya.

“Iya sih Bu, tapi mau gimana lagi. Loh kok ini….” Kataku sambil terus menggeser layar Smartphone. Tetapi tiba tiba bu Arum merebutnya dari tanganku.

“Eehhhh kalau yang itu jangan dilihat yah…” Seru bu Arum menyembunyikan sesuatu.

Buarum kemudian menjauhkan Hpnya dariku. Ia seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Tetapi sebelum Bu Arum merebut HPnya dariku. Aku sempat melihat sekilas gambar seorang wanita dengan sabuk berpenis sedang berdiri dihadapan muka Tante Elin. Aku langsung memandang Bu Arum dan kulihat raut mukanya mulai sedikit panik ketika aku memandangnya. Ia tersenyum seperti senyum orang yang tengah menyembunyikan sesuatu.

“Memang tadi gambar siapa bu? Masa saya gak boleh lihat” tanyaku sedikit memancing.

Namun akhirnya Bu Arum memberikan lagi HPnya kepadaku. Dan memperlihatkan gambar yang tadi sempat ia sembunyikan dariku. Dan benar saja seperti yang sekilas kulihat. Wanita yang mengenakan Sabuk penis itu ternyata adalah Bu Arum. Kulihat didalam layar tersebut Bu Arum tengah menyodorkan penis buatan kemuka Tante Elin, dan tangan bu Elin terlihat sedang menggenggam pipi Tante Elin. Rupanya wanita paruh baya ini ikut dalam permaianan Fantasi Bang Robert Semalam. Jantungku makin berdebar mengetahuinya.

“Jadi Bu Arum semalam ikutan juga”
“Heee, Iya Nak Bas Ibu juga ikutan,sebenarnya Tadi malam itu Ibu yang mau dijadiin Slave sama dek Robert, tapi karena Dek Robert terlanjur tertarik sama Jeng Elin akhirnya Ibu diminta jadi Master (Istilah BDSM), sementara Jeng Elin yang jadi Slavenya.” Jelas Bu Arum dengan mukanya yang semakin merona.

“Ohh jadi gitu toh bu, berarti Ibu Arum juga suka BDSM seperti Bang Robert?” Tanyaku.

“Iya nak, makanya semalam kan ibu nolak waktu diajak permainanya Rudy. Itu karena Ibu mau nyiapin tenaga buat jadi Slavenya Dek Robert.”

Jadi ini jawaban kenapa Bu Arum begitu pendiam dan selalu memisahkan diri dari keramaian. Ternyata wanita ini juga pengidap kelainan sexual juga. Sungguh aku tidak dapat menyangka. Karena dari penampilan dan tutur kata Bu Arum, tidak sedikitpun terlihat tanda tanda pemilik kelainan sexual.

“Udah ah jangan dilihat terus fotonya, Ibu kan jadi Malu.” Kata Bu Arum sambil meminta kembali Handphonya dariku.

“Yah Ibu, kan tanggung ngelihatnya” Keluhku.

“Udah nanti Ibu kirim lewat email deh Foto fotonya, tapi jangan dilihat sekarng soalnya Ibu Malu tahu” Jelasnya sedikit malu malu.

“Iya deh Bu, tapi beneran yah Bu semua foto itu dikirim ke Email Bastian” Tanyaku memastikan.

“Iyaa, nanti kamu kasih ke Ibu Email kamu yah”

“Eh, Nak Bastian sendiri semalam bagaimana dengan Zaskia, pasti seneng kan bisa bobo bareng artis” Canda Bu Arum.

“Yaah, seneng sih Bu kapan lagi coba Bu dapet kesempatan bisa tidur bareng dengan artis macam Zaskia. Kalau gak ada kesempatan kaya semalem sih. Kayaknya gak bakal pernah kesampaian”

“Wuhh Pasti seru yah permainanya, sampe ketiduran gitu kan” Godanya.

“Seru banget Bu, tapi yah itu Teh Zaskia gak jago Oral Bu.”

“Oh yah? Memang kenapa dengan Oraknya?” Tanya Bu Arum penasaran.

“Kurang mantep bu, nyedotnya juga asal asalan, Udah gitu kena gigi terus sampe perih anunya Bastian.” Jelasku apa adanya.

“Yah mungkin aja dia memang gak kebiasa ngelakuin itu” kata Bu Arum meluruskan.

“Ya mungkin aja sih Bu kaya gitu,” Balasku singkat.

“Tapi kalau sedotan Ibu semalam enak kan?” Tanyanya begitu menggoda dan memancing birahi.

“Waaah, kalau sedotan Bu Arum semalem sih luar biasa, semalem tuh sebenernya Tian hampir aja keluar loh, untung aja Mba Tania mendesah, kalau enggak Tian bisa nyembur deh dimulut Ibu” Jelasku tanpa melebih lebihkan.

“Masaa sih, Jadii…. enakan mana Sepongan Ibu atau sepongan Zaskia Gotik?” Tanya Bu Arum sengaja memancing

“Yah jelas Ibu lah, Teteh Zaskia mah gak ada apa apanya,” Jawabku jujur.

“Hmmmmmm”
“Nak Baaas, mau lagi gak?” Pinta Bu Arum yang sontak membuatku bingung hendak menjawab apa.

Bu Arum dengan sigap mengelus selangkanganku, Ia meraba dari balik celana Penisku yang sudah Tegang dan Keras karena melihat foto foto BDSM tante Elin. Ia terus mengelus dan sedikit meremas ringan sembari mengeluarkan kata kata ajakan yang begitu mesra ditelingaku.

“Ehhh Kalau Bu Arum gak keberatan sih, Tian mau di sepong lagi sama Bu Arum” Jawabku atas permintaanya.

Ia tersenyum lebar kepadaku, dan tangan kirinya semakin bergerilya menyusuri selangkanganku. Bahkan kini ia mulai mencoba menerobos celanaku untuk meraih Keperkasaanku yang masih terkurung didalam belenggu. Bu Arum meraih kancing celanaku lalu ia mulai menurunkan resletingku.

“Ehhh buuu, pelan pelan, Tian gak pake Celana Dalam soalnya”

Bu arum tak menjawabnya. Ia terus fokus memandangi selangkanganku. Dengan hati hati dan penuh ketelitian, ia menurunkan resleting celanaku hingga Penisku yang tegang lolos dari dalam belenggunya. Bu Arum segera menggengam Penisku dengan jemarinya. Ia mulai mengocok penisku dengan lembut. Lalu ia semakin mendekatkan tubuhnya hingga menempel denganku.

Dengan Tangan kirinya ia terus mengocok penisku, sedang tangan lainya mulai merangkul pundaku hingga dadanya semakin merapat ditubuhku. Kurasakan sentuhan payudaranya yang begitu terasa lembut ditubuhku. Ku longgarkan celanaku hingga sebatas lutut agar Bu Arum semakin mudah mengocok penisku. Dirasa cukup memainkan penisku dengan jemarinya, bu Arum lantas mendekatkan bibirnya diatas kepala penisku. Ia beri kecupan kecil lalu segera ia masukan ujung penisku kedalam mulutnya.

Bu Arum hanya memasukan sebagian Ujung penisku saja. Namun didalam mulutnya, lidah bu Arum memiliki peranan yang begitu besar. Bu Arum meliuk liukan lidah hangatnya di seluruh Kepala Penisku dan sesekali ujung lidahnya ia gelitikan tepat dilubang saluran kencingku.

“Aahhhhh, enaaaak Bu Aruuum”
“Aahhhh, oiuuuuuuuwwww, iyyaaaaan yaaaaa yaaaahhhh”
“Ooachhhhh, wwwooooooo”

Aku terus menggelinjangkan tubuhku setiap kali Lidah bu arum menari nari didalam sana. Lalu kurasakan Bu Arum semakin merapatkan bibirnya. Sangat rapat hingga dapat kurasakan Penisku seperti digencet. Lalu tanpa sedikitpun melonggarkan jepitan bibirnya. Ia pilin dan semakin memasukan penisku kedalam rongga mulutnya hingga hampir menyentuh tenggorokan. Lalu dengan Konstan, bu Arum menggerakan kepalanya naik turun dan terus mengulum penisku. Aku serasa diberi terapi pijat pada batang kejantananku. Aku menggelinjang dan terus meraung merasakan kenikmatan ini.

Sesekali Bu Arum melepas kulumanya dan berpindah mengulum dan menjilati buah Zakarku semabari tanganya mengambil peran sementara. Ia terus menjilati Bola Dragonku dan dengan gemasnya tanganya tetap mengocok penisku dengan penuh tenaga.

“Ahhhhh”

Mataku merem melek dan mulutku tak kuasa menahan ingin terus mengeluarkan desahan akibat perlakuan Bu Arum terhadap Penisku. Kulhat punggung Bu Arum dari belakang, lalu dengan berani kuremas payudaranya dengan tangan kiriku. Lalu melalui selah selah Lingerinya kumasukan tanganku dan kembali kuremas payudara dengan puting yang besar dan mencuat. Puting seperti inilah yang sebenarnya aku sukai, karena Tante Ocha juga memiliki Puting yang serupa dengan ini.

“Ohhhh enaak bangeet Buuu, aahhhhh”a
“Ahhhhhh ahhhhhh”
“Buuu, saya mau keluaar nih kayaknya”
“Ahhhhhhh OuUuwwwwhhh”

Mendengar itu Bu Arum langsung berpindah, ia berjongkok dihadapanku dan melanjutkan mengulum penisku dengan sedotan yang begitu kencang hingga kedua pipinya mengempis. Aku begitu menikmati kulumanya, namun aku tak mampu lagi menahan keluarnya lahar panasku.

Croooorrttt
Crooooot
Croooooott

“Aahhhhhhhhhhhhhhhh”
“Oouuchhhhhh”

Aku mengeluarkan semua maniku didalam mulut Bu Arum. Ia sama sekali tak membuka mulutnya hingga otomatis maniku langsung mengarah ke tenggorokanya dan ia menelanya hingga tetes terakhir. Ia melepas kulumanya kemudian menyeka sperma yang menempel di ujung bibirnya.

~***~

“Wah wah wah, Bu Arum sudah sarapan duluan ternyata” Suara Bang Robert mengagetkanku.

“Eh Dek Robert, sudah bangun rupanya” jawab Bu Arum sambil berdiri dan duduk disamping kananku. Aku bergegas merapihkan kembali celanaku dan perlahan menarik resletingku. Bang Robert duduk disamping kiriku lalu kemudian ia menepuk bahuku.

“Bastiaaan, semalam kamu kemana saja, saya nungguin gak balik balik, keasyikan yah di goyang Zaskia?” Tanya Bang Robert.

“Aduh maaf nih Bang, semalem saya ketiduran, habis cape banget bang akhirnya jadi tidur sama Teh Zaskia deh” jawabku menjelaskan.

“Aduhhh, sayang padahalkan saya mau ngajakin kamu ikut permainan saya. Yah tapi sudah lah. Mungkin lain waktu aja deh saya ajak kamu lagi” kata Bang Robert melanjutkan.

“Berarti Zaskia sekarang masih dikamarnya?” Tanya Bang Robert.

“Iya bang, tadi waktu saya kesini dia masih tidur tiduran dikasur, kayaknya capek banget dia.” Jelasku.

“Ohh ya udah gak apa apa, Oh iya nanti siang kamu ikut yah, rencanaya Saya mau ngundang makan Siang nanti. Nanti kamu nda langsung pulang kan?” Tanya Bang Robert lagi.

“Iya Bang Siap kalau itu mah”

Tak lama kemudian, Tante Elin juga keluar dari kamar. Ia bergabung dan berbincang sekedar basa basi dipagi ini. Tante Elin masih menggunakan pakaian yang sama seperti tadi malam, namun kulihat rambutnya begitu lusuh, ia mengikatnya begitu saja. Setelah berbincang cukup lama tentang apa yang terjadi semalam, kami memutuskan untuk kembali ke kamar kami. Aku dan Tate Elin berpamitan kepada Bang Robert.

Kami menuju kamar kami, namun kulihat Tante Elin sedikit kepayahan ketika berjalan, langkahnya. Sedikit tersendat. Mungkin ini karena efek dari Bondage yang dia alami semalam. Ketika sampai didepan pintu kamar kami, kubukakan pintu dan kupapah Tante Elin kedalam. Tante langsung merebahkan tubuh gempalnya keatas kasur. Ia masih terlihat kelelahan dan begitu tak berdaya. Aku sedikit kasihan padanya, karena aku yakin semalam adalah pengalamn BDSMnya yang pertama kali dalam hidupnya.

Aku menuju kamar mandi dan menyiapkan Air hangat didalam Buthup untuk mandi Tante Elin. Setelahnya, Kubuatkan Teh hangat dan kuberikan kepadanya. Tante elin langsung menghabiskan separuh teh hangat itu lalu ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badanya. Aku menawarkan untuk memesan makanan, lalu kutelepon layanan kamar dan memesan dua porsi makanan untuk sarapan kita pagi ini. Setelah selesai menelpon Service Room, aku menyusul Tante Elin didalam kamar mandi, dan ternyata ia sudah telanjang bulat. Ia sudah berbaring didalam Buthup yang berisi penuh Air Hangat. Ia menyenderkan kepalanya disandaran dan memejamkan mata untuk mereleksasikan tubuhnya yang begitu kelelahan.

Kudekati tubuhku dan berjongkok didekatnya. Ku belai rambutnya yang basah dan sedikit kuberikan pijatan dikepalanya. Ia menyukai pijatanku, katanya seperti pijatan seorang terapis di Salon. Memang benar, karena memijat memang salah satu bakat alami yang aku miliki sedari dulu.

“Tante, emangnya semalem gak kesakitan yah diiket iket kaya gitu?” Tanyaku sambil memperhatikan Ruam merah dipundaknya.

“Yah awalnya Tante Takut Bas, tapi penasaran jug, dulu pernah sih diiket2 gitu sama si Hendra, cuma dia gak pinter malah badan tante sakit sakit semua.” Jawabnya.

“Ohh, emang enak Tan pas digituin,?”Tanyaku lagi.

“Kalau bilang sakit sih sakit bas, tapi nih ya semakin badan tante meregang kesakitan, semakin terangsang pula bas, semalem tuh tante sampe Squirt berkali kali. Pokoknya enak sihh.” Jelasnya.

Dengan Hikmat kudengarkan cerita pengalaman barunya semalamTak beberapa lama, Tante Elin selesai merelaksasikan tubuh dengan berendam air hangat. Lalu ia melilitkan Handuk Jubah ditubuhnya lalu keluar dari kamar mandi bersamaku. Sesaat setelah itu seorang Room Servise datang membawakan makanan. Kami duduk saling berhadapan menikmati menu sarapan yang tadi kupesan. Kupandang wajah Tante Elin yang terlihat lesu.

“Tante, senyum sihhh” pintaku.
“Ahhhh, Tante Isih Lemes Koh Bas,” jawabnya tak bergairah.

“Yah lemes kan masih bisa tetep senyum dong” Sedikit kusemangati dia.
“Hiiiii” Ia tersenyum seadanya.
“Nah gitu kan sudah lumayan” Balasku.

“Lah karepmu lah Bas, Tapi Tante minta Maaf yah, niat awal Tante minta tolong Kamu buat nemenin Tante eh malah jadi agak berantakan gini. Tadinya kepengen Ngentot sama kamu lebih lama, eh malah ada undangan pesta kaya semalem.” Kata tante sambil menyentuh pergelangan tanganku.

“Udah lah gak apa apa, lagian aku sama Tante jadi punya pengalaman baru kan” Jelasku menenangkan.

“Iya sih, Tapi Tante durung puas ngerasain kontolmu sayang” Keluhnya lagi sambil mengeluarkan senyumnya.

“Ya ampun Tante Elin yang gendut, kok gitu aja bingung, ya udah habis arapan kita lanjutin lagi, kan masih sempet.” Kucoba memberi solusi.

“Yah tapi badan Tante masih pegel pegel nih, dah leemeees pisan,”

“Ahhh apa nanti Tante main kejakarta aja yah, kamu Liburan pulang ke Jakarta kan?” Tanya dia semangat.

“Iya Tan memang kenapa?” Aku balik bertanya.

“Yah kita janjian disana aja, nanti kita cari tempat buat ngelanjutin Kimprung kita yang tertunda, mau yah yah Bastian?” Rujuknya memohon kepadaku.

“Iya iya, terserah tante deh, aku mah manut bae lah”

“Ihh lucunya make bahasa banyumas segala.”

“Memang gak boleh” tanyaku

“Boleh lah, masak kaya kue bae gak boleh” jawabny sembari tersenyum manja.

“Eh Tante pulang ke Cilacap kapan? Naik apa?” Tanyaku.

“Nanti Sorean, naik kereta? Kenapa kamu mau anterin tante ke Stasiun?”

“Iya bisa sih, nanti Tian anterin”
“Berarti nanti habis makan siang bareng Mas Robert kita masih sempet jalan jalan dong, maukan temenin Tante jalan jalan?”

“Siap kanjeng Ratu”

“Ihhh gemes deh Tante ” Balasnya sambil mencubitku
“Tapi sekarang Tante masih ngantuk koh Bas, tante tidur lagi yah, nanti kamu bangunin yah agak siangan” Lanjutnya.

“Iya udah Tante tidur aja, nanti aku bangunin kok”

Setelah kami berdua sarapan, Tante Elin kembali merebahkan badanya diatas kasur lalu tak lama ia tertidur. Kulihat wajah Tante yang sedang tidur terlihat begitu bahagia. Sembari menunggu Tante Elin tidur kunyalakan TV dan kutonton chanel faforitku. Kubuka HPku dan aku baru sadar bahwa banyak telepon dari Tante Ocha. Kutelpon balik untuk memberi tahukan kabarku.

Tuuuutttt..

“Halo Tante, lagi ngapaian?”
“Heei kamu tuh dari kemarin ditelpon gak diangkat awas ya kamu.” Seru Tante dibalik telepon.

“Iya maap Tante Hp Tian ditaro di Tas jadi gak tahu ada Telpon maaf yah, Tante sampe jam berapa semalem” jawabku.

“Dasar kebiasaan. Semalem sampe jam 1. Kamu dimana? Masih sama Jeng Elin.” Tanya Tante.

“Masih ini Tante Elin ya lagi tidur, nanti siangan juga Tian dah balik kok” jawabku.

“Yah udah kalau begitu, Udah dulu ya Bas Ini Tante lagi ada urusan. Tapi nanti kabarin loh kalau udah pulang, HPnya dinyalain awas kalau di matiin.”

“Iyaaa, ya udah Dadah Tante, Muachhh”

“Muachhhh” Cium balik

~***~
Waktu terus berputar dan sekarang sudah siang Hari. Diluar sana kudengar suara Adzan Sholat Jumat. Aku lupa kalau hari ini adalah hari jumat, minggu ini aku melewatkan lagi. Oph tidak. Semoga minggu depan aku tidak lupa. Tante Elin sudah siap Ia berdandan dan mengenakan pakaian Rapi untuk makan siang bersama Bang Robert dan semua tamu tamunya.

Sebelum berangkat menuju suatu restoran mewah di kota Jogja, kami menemui Koh Hen dan Eva terlebih dahulu dikamarnya. Ternyata mereka berdua juga sudah siap untuk berangkat. Kami berjalan bersama menuju menuju Loby untuk Cekout kamar Tante Elin. Lalu bersama kami menuju tempat parkir.sesampainya ditempat Parkir kami saling berpisah kembali. Eva dan Koh Hen satu mobil sedangkan aku dengan Tante Elin. Akhirnya kami menuju restoran yang dimaksud. Beberapa menit kemudian kami sampai disebuah Restoran yang terbilang cukup mewah di Kota ini. Bang Robert dan Bu Arum sudah disana setengah jam yang lalu. Tak lama tamu yang lain juga datang ketempat ini. Kami menyantap makanan yang sudah dipesankan dan saling bercengkrama satu sama lain.

Sekitar pukul 2 siang acara makan bersama ini berakhir. Ada sebagian yang langsung berpamitan pulang karena mengejar pesawat dan ada juga yang masih menikmati akhir pekanya dikota Jogja. Seperti Koh Hen yang esok hari masih memiliki urusan Bisnis, ia kembali ke Hotel dengan membawa Serta Eva.Aku dan Tante Elinpun ikut berpamitan kepada Bang Robert. Ia memberi ucapan terimakasih karena telah hadir pada pestanya, padahal secara remi kami berdua tidak diundang. Tetapi Bang Robert berjanji bila ia mengadakan pesta lagi ia tidak akan lupa mengundang kami terutama Tante Elin. Karena bang Robert rupanya sudah sangat tergila gila dengan tante Elin. Ditempat umum seperi ini ia masih sempat memeras pantat besar Tante Elin ketika mereka bersalaman.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

Setelah selesai berpamitan, kami langsung meninggalkan tempat itu. Kami segera menuju tempat parkir dan mencari mobilku. Kami berdua masuk dan bergegas meninggalkan Restoran ini. Aku mengajaknya kebeberapa tempat penjualan oleh oleh khas Jogja. Dan Tak lupa aku juga membawa Tante Elin menuju tempat yang menjadi salah satu Icon ekonimi dikota pelajar ini “Malioboro”. Kami masuk kesalah satu toko penjualan Batik khas Jogja ini “Mirota”. Tante banyak sekali memborong berbagai pernak pernik menarik yang dijual disini, Ia juga membeli sejumlah kain batik yang akan diberikan untuk teman temanya. Kami tak lama berputar didalam sini. Setelah keluar dari dalam Mirota, aku mengajak tante berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan Malioboro. Aku mengajaknya ke 0KM, ia sempat mengajaku berfoto bersama disana. Kami berfoto bersama dengan latar Museum BNI. Walau bukan foto mesra namun cukup untuk membuat kenangan.

Setelah puas berjalan jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk segera menuju Stasiun Tugu. Kami menuju mobil yang kuparkir tak jauh dari gedung Toko Mirota. Walaupun Stasiun Tugu tak jauh dari sini, namun aku harus mengambil jalan memutar unut menuju kesana. Jogja memang salah satu kota yang padat selain Jakarta, terutama dipersimpangan jalan. Ketika mobilku berhenti di Persimpangan Jalan kulihat lampu trafik baru saja berwarna merah dan menunjuk waktu sekitar 150 detik. Cukup lama memang. Namun tiba tiba Tante Elin mengajaku berciuman, awalnya aku menolak karena ini masih ditempat Umum. Tetapi karena kaca mobilku cukup reflektif akhirnya kuberanikan diri. Kucium bibir Tant Elin dan kuberikan kecupan sebagai tanda perpisahan dariku. Tant Elin terus menciumi dan menjilat lidahku dengan liarnya. Seolah ia tak mau berpisah denganku. Kami terus melakukan Ciuman ini selama persimpangan yang kami lalui. Hingga akhirnya kami sampai juga di depan Stasiun Tugu. Aku mengantar Tante menuju peron, kubawakan barang bawaanya berikut oleh oleh yang baru saja ia beli.

Tak lama kereta yang akan ia tumpangi datang. Ia masuk peron dan aku hanya di depan lobi saja. Tante melambaikan tanganya sebagai ucapan terakhir perpisahan kami. Tetapi sebelum ini aku telah berjanji akan bertemu lagi dengan Tante Elin.Tante sangat senang dengan Janji itu dan mungkin ia akn terus mengingat dan akan senantiasa menagih janjiku itu padanya.

Tak lama aku meninggalkan Stasiun Tugu. Aku memutuskan untuk langsung pulang kekosan, karena jujur saja, badanku ini sudah sangat lemas dan tak berdaya sedikitpun. Namun didalam perjalanan menuju Kosn, aku melihat sebuah toko yang menjual beraneka ragam boneka. Aku berhenti, entah apa yang ingin aku beli, aku berhenti saja. Dalam kebingungan mengapa aku tiba tiba berhenti didepan toko ini, aku melihat sebuah boneka Spongebob, beraneka ragam bentuk dan ukuran disediakan ditoko ini. Akhirnya aku membeli beberapa boneka Spongebob tersebut tanpa alasan. Transaksi selesai akupun melanjutkan perjalanan pulangku.Ditengah jalan aku baru teringat bahwa seseorang yang sangat menyukai sosok Spongebob Squarepant adalah Mba Icha. Tetapi kenapa secara tiba tiba aku membelikan barang kesukaanya. Entah kenapa alam bawah sadarku menuntunku untuk melakukan itu semua.

Aku tidak begitu memikirkanya, hingga aku sampai dedepan gerbang Kosn tercintaku, Kuarahkan mobilku menuju tempat parkir mobil dikosn ini. Namun seketika itu pula…..

Author: 

Related Posts

2 Responses