Cerita Sex Tusuk Konde – Part 6

Cerita Sex Tusuk Konde – Part 6by adminon.Cerita Sex Tusuk Konde – Part 6Tusuk Konde – Part 6 Tangis Sunyi di Bukit Duri Penjara Wanita Bukit duri, Jakarta. 1965 ” Siti Munaroh…” Panggil seorang petugas berseragam hijau, dengan menyebutkan salah satu dari deretan nama pada buku folio diatas meja dihadapannya.. ” Saya pak..” jawab seorang perempuan muda sambil mengacungkan jari telunjuknya diantara ratusan wanita yg juga berjongkok dipelataran […]

multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-3 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-4 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-5Tusuk Konde – Part 6

Tangis Sunyi di Bukit Duri

Penjara Wanita Bukit duri, Jakarta. 1965

” Siti Munaroh…” Panggil seorang petugas berseragam hijau, dengan menyebutkan salah satu dari deretan nama pada buku folio diatas meja dihadapannya..

” Saya pak..” jawab seorang perempuan muda sambil mengacungkan jari telunjuknya diantara ratusan wanita yg juga berjongkok dipelataran penjara itu.

Dia adalah Mumun salah seorang ronggeng dari paguyuban Gambang-kromong Kembang goyang yg digaruk aparat karena paguyuban itu disinyalir telah tergabung sebagai anggota LEKRA yg dianggap organisasi underbouw dari PKI.

LEKRA(lembaga kebudayaan rakyat) adalah lembaga yg menaungi para pekerja seni seperti seni tari,lukis,seni suara,film dll. Yang dalam kurun waktu 1950 hingga 1965, lekra merupakan sebuah organisasi independen yg cukup besar, konon hingga saat ini belum ada sebuah organisasi kebudayaan yg mampu menyamakan kebesaran lekra, yg diklaim memiliki anggota hingga ratusan ribu pekerja seni diseluruh indonesia.

Sehingga Paguyuban Gambang kromong Kembang-Goyang pimpinan Lie tjong peng, yg waktu itu lumayan dikenal dijakarta, dan bagi lie tjong peng sendiri pagayuban itu juga adalah sumber bisnis yg telah cukup banyak memberikan keuntungan finansial kepadanya, sehingga menjadi suatu keharusan jika waktu itu lie tjong peng mendaftarkan paguyubannya menjadi anggota lekra. Menurut pemikirannya paling tdk setelah paguyubannya menjadi anggota lekra, paguyubannya tidaklah dianggap sebagai perkumpulan liar, sebaliknya akan dianggap paguyuban yg resmi dibawah naungan lekra.

Tujuan lekra adalah utk melindungi,melestarikan dan mengembangkan seni budaya indonesia dengan basis seni rakyat.

Lekra yg waktu itu sangat militan dalam melaksanakan kerja budaya dan menentang keras kebudayaan imperialis(barat) dan sepenuhnya memihak sekaligus memberdayakan kebudayaan rakyat. Serta aksi yg dilakukan lekra dengan membabat habis semua bacaan2,film,musik,tarian dari barat yg tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia, dan sebagai gantinya lekra menumbuh kembangkan bacaan,film,musik,tarian yg sesuai dgn jiwa revolusioner.

kebijakannya yg seperti itulah yg dianggap sejalan dengan pemikiran komunis(PKI) ditambah lagi ada beberapa petinggi lekra yg juga merupakan orang PKI, serta pergelaran seni yg dilakukan oleh seniman lekra seperti ketropak dan ludruk kerap dimanfaatkan oleh PKI sebagai media propaganda ajaran komunisnya, yg disisipkan pada setiap lakonnya, sehingga pemerintahan sementara pada waktu itu merasa perlu untuk membrangus lekra, sesuai dengan doktrin yg diberikan untuk membabat habis PKI hingga keakar-akarnya.

Apa posisi kamu di LEKRA? tanya sang petugas, kepada Mumun yang berdiri didepannya. wajahnya terlihat kusam, mengenakan daster yg sudah terlihat lusuh dan kotor pada bagian bokongnya, rambutnya yg diikat kebelakang dengan menggunakan karet gelang tampak mulai menggerimbal, serta minyak yg mulai melumuri wajahnya menandakan dirinya tak tersentuh air dalam beberapa hari. Mumun memang sudah hampir satu minggu berada dipenjara dikawasan kampung melayu itu, yg bersama rekan-rekan sepaguyuban diangkut dengan menggunakan truk tentara. Hingga sampai detik itu mumun dan ratusan orang lainnya yg berada disana masih belum mengerti mengapa mereka sampai dipenjarakan, dan apa yg telah mereka perbuat sehingga para petugas menganggapnya seolah-olah dia telah melakukan suatu kesalahan yg teramat besar.

Posisi pegimana maksudnya pak? Kurang paham saya jawab Mumun, merasa kurang mengerti dengan apa yg ditanyakan petugas itu.

Kamu anggota gambang kromong kembang goyang kan..? nah disitu kamu kerjanya apa? ngapain? jelas petugas itu, sambil melihat personal data yg tertulis pada buku folio setebal hampir 2cm itu.

Oh, iya pak.. saya penari, pemaen ronggeng jawab Mumun.

Ronggeng ya..? lalu apa yg mendasari kamu masuk anggota LEKRA?

Saya kagak tau pak..saya kagak tau LEKRA, yg saya tau saya kerja sama Babah Lie untuk jadi ronggeng

Apa saja yang kamu kerjakan?

Ya nari pak, ngibing..

Dan jual diri? kali ini Mumun tidak menjawab pertanyaan terakhir itu, kecuali menunduk.

Jawab.. yg kemudian dijawab Mumun dengan menganggukan kepala sambil menunduk.

Soal jual diri itu bukan urusan kami, kami tidak peduli kamu mau jual diri atau apapun..tapi yg menjadi permasalahan adalah kamu terdaftar sebagai anggota LEKRA, yang adalah organisasi sayap dari PKI, yg mencoba melakukan makar dan membunuh jendral-jendral dengan keji..paham kamu? terang petugas itu.

Iya tapi saya bukan anggota LEKRA pak..saya kagak tau jawab Mumun memelas

Iya tapi kamu telah tercatat disini sebagai anggota gambang keromong kembang-goyang.. Betul begitu?

Iya, kalo itu sih betul pak

Iya kalau begitu berarti kamu termasuk anggota LEKRA, karna paguyuban gambang keromong kembang goyang telah terdaftar sebagai anggota LEKRA semenjak tahun 1962.. Dan kamu adalah anggota dari gambang keromong itu, itu artinya kamu adalah anggota LEKRA, betul kan?

Iya kali pak, saya mah kagak tau pisan soal begituan, itu mah urusannya Babah Lie jawab Mumun polos, karna dirinya masih belum sepenuhnya paham dengan apa yg sesungguhnya telah terjadi, bahkan juga tidak terlalu paham apa yg sebenarnya ditanyakan oleh petugas itu.

Nah, kalau begitu sudah jelas kan kamu anggota LEKRA.. ujar sang petugas seraya memberikan tanda komformasi atas nama Siti Munaroh pada buku yg berada dihadapannya.

Sekarang kamu tanda tangan disini.. perintah petugas, sambil menunjuk nama Siti Munaroh diantara deretan banyak nama pada buku folio diatas meja itu.

Saya kagak tau baca tulis pak..

Kalau begitu cap jempol.. seraya petugas menyodorkan busa bantalan tinta pada Mumun.

Selanjutnya ..Uswatun hasanah..

******

Satu bulan sudah kini Mumun menjadi penghuni penjara tersebut, hal yg sama sekali belum pernah dibayangkan pada dirinya akan mengalami nasib seperti itu, dan hingga saat itupun Mumun masih belum mengerti kontribusi apa yg dilakukannya sehingga mengharuskan dia menjadi penghuni tahanan seperti itu, berbagai hal buruk sering dialaminya selama satu bulan menjadi tahanan. Dirinya pernah sempat menerima siksaan pisik dari petugas berupa pukulan rotan pada punggungnya, hal yg juga pernah dirasakan bagi hampir semua penghuni penjara. Hal yg dirasanya masih jauh lebih baik bila dibandingkan dengan teman satu selnya yg merupakan seorang anggota GERWANI (gerakan wanita Indonesia) organisasi yg dianggap sebagai sayap PKI, yg menerima perlakuan jauh lebih kejam dari dirinya.

Waktu itu Mumun sedang berbincang-bincang dengan temannya itu, yg adalah seorang wanita terpelajar, yg sering memberikan pelajaran tentang baca tulis kepada Mumun. Dari wanita itu pula Mumun banyak diberi wejangan tentang persamaan hak antara laki-laki dan wanita untuk mendapatkan pendidikan, seorang wanita harus pintar, seorang wanita harus melek politik dan masih banyak lagi. Tiba-tiba datang tiga orang petugas pria yg mengintimidasi wanita itu.

Hei, kamu anggota gerwani kan? Coba buka paha kamu, pasti ada tato palu aritayo cepat buka.. perintah petugas itu

Apa maksud kalian, saya anggota gerwani itu benar, tapi tak ada tato yg kalian maksud dipaha kami, itu hanya akal-akalan kalian saja.. ujar wanita itu tanpa takut, bergidik juga hati Mumun dengan sikap wanita itu, Mumun kawatir akan terjadi hal yg lebih buruk bila wanita itu terus bersikap seperti itu, karna untuk saat ini hanya dialah tempat Mumun berkeluh kesah didalam dunianya yg sempit itu.

Wah ngelawan nih dasar Gerwani, wanita amoral,kafir, sadis, penganut seks bebas kalian kan yg membunuh jendral-jendral dengan sadis sambil menari telanjang, setelah itu melakukan perbuatan jinah bersama-sama diatas mayat-mayat jendral.. hardik putugas itu

Fitnah keji apalagi yg kalian timpakan kepada kami, dongeng apa lagi itu.. kami Gerwani adalah penerus perjuangan Kartini, kami memperjuangkan persamaan hak kaum kami untuk lebih maju, dan lebih bermartabat.. tegas wanita itu dengan lugas.

Wah, emang perlu dikasih pelajaran nih pki satu..udah kita bon aja sekalian, ayo bawa.. seraya ketiga petugas itu menyeretnya. Kini hanya suara jerit kesakitan dan teriakan pilu dari wanita itu yg hanya bisa Mumun dengar, entah apa yg menimpa dirinya saat itu. hingga sekitar satu jam kemudian wanita itu kembali diantar oleh petugas itu dan langsung dicampakan begitu saja begitu dibukanya pintu sel. Mumun segera memapah wanita itu, kondisinya amat memprihatinkan, tampak lebam-lebam pada wajahnya, bibirnya pecah mengeluarkan darah.

Ya ampun..kenape mpok? tanya Mumun, yg hanya dijawab dengan tatapan kosong wanita itu.

Satu bulan setelah itu, wanita itu kembali diambil dari selnya bersama dengan beberapa tahanan lain, entah dibawa kemana, Mumun pun tidak mengetahui, namun setelah itu perempuan itu tak pernah kembali lagi, meninggalkan Mumun yg kini tak ada lagi tempatnya untuk berkeluh kesah. Dalam lamunannya Mumun kadang selalu mengingat Romlah, orang yg dulu pernah dizoliminya, Apakah bencana yg menimpa dirinya sekarang ini adalah balasan dari apa yg dia lakukan pada Romlah? Pikirnya. hidup macam apa ini?, dikurung seperti ini, dan tak pernah tau untuk sampai berapa lama dia disini. Sebagian penghuni penjara telah diangkut dan tak pernah kembali lagi, ada yg kembali namun dengan kondisi yg mengenaskan karna siksaan yg diterimanya. Esok atau lusa mungkin dirinya yg mendapat giliran, seraya dirinya tertunduk sambil meneteskan air mata “maapin gua romlah…ampunin gua..gua takut ” batinnya.

******

Memasuki bulan yg keempat sudah, Mumun berada ditempat itu, semenjak dirinya bersama-sama seluruh orang-orang gambang kromong kembang goyang diangkut paksa dari padepokannya, bagai bertahun-tahun sudah rasanya, berbagai kegetiran telah dialaminya, mulai dari perlakuan kasar, pelecehan, serta makanan yg diberikan yg sebetulnya hanya layak diberikan kepada hewan. Dan sedikit demi sedikit dia mulai paham apa sebenarnya yg menyebabkan dirinya menjadi penghuni ditempat itu.

Seperti biasa dalam kesehariannya Mumun mendapatkan tugas membersihkan ruang kantor dipenjara itu, mulai dari lantai yg harus disapu kemudian dipel, membersihkan debu-debu yg melekat pada meja dan dinding, hingga menata deretan buku-buku yg tersusun begitu banyak dirak ruangan itu.

Pagi itu seorang perwira jaga yg sedang bertugas adalah Letnan Hambali, seorang perwira muda bagian inteljen yg mengurusi penyusunan data-data dari para tahanan, tugasnya yg seperti itulah yg membuatnya begitu paham berapa jumlah tahanan yg ada disana, dan juga mengetahui secara ditail latar belakang dari tahanan tersebut, karna semua data pribadi tahanan berada dalam pengawasannya. Termasuk juga data-data tahanan yg akan dan telah dieksekusi berada didalam catatannya

Mumun sudah hafal betul dengan petugas yg satu ini, yg seringkali mencuri pandang pada dirinya disaat sedang membersihkan ruangan itu, dan Hambali akan berpura-pura mengalihkan perhatian pada buku didepan mejanya saat mata Mumun kembali menatapnya. Mumun sebagai seorang wanita yg bisa dikatakan telah lama berkecimpung dalam dunia ronggeng yg juga merupakan pekerja seks, tentu sudah hafal mati dengan tatapan mata seorang lelaki, itu adalah salah satu keahliannya, mungkin lebih ahli ketimbang naluri inteljen yg dimiliki pemuda itu.

Namun sepengetahuan Mumun, yg membedakan letnan Hambali dengan petugas yg lain adalah bahwa pemuda ini jauh lebih ramah dan santun ketimbang para petugas Bintara atau Tamtama ditempat itu, sikapnya tak pernah kasar, apalagi menghardik atau menyiksa tawanan. Justru Mumun pernah melihat Hambali memberikan hukuman push-up kepada bawahannya saat mengetahui bawahannya itu menendang seorang tahanan Tugas kamu disini adalah menjaga para tahanan jangan sampai kabur, cuma itu..perkara yg lain, sebelum ada perintah jangan pernah kamu melakukan apapun, paham.. begitu ujar Hambali kepada sang tamtama.

******

Lapor pak..ada tahanan yg sakit, sepertinya sudah tidak dapat bangun sama sekali.. lapor seorang bintara kepada Hambali.

Bawa dia ke Klinik perintah Hambali, sambil jari-jemarinya masih menari pada deretan knop huruf pada mesin ketik dihadapannya.

Siap pak, laksanakan.. jawab sang bintara

Oh iya sersan, siapa lagi tahanan yg sakit itu? tanya Hambali

Mumun pak, Siti munaroh..

Mumun? kali ini raut wajah hambali berubah, jemarinya yg menari pada knop mesin tik mendadak berhenti.

Dengan dipapah oleh dua orang tahanan lain mumun diantar kesebuah klinik didalam lingkungan penjara itu.

Sepertinya Malaria, fasilitas disini tidak memungkinkan untuk dapat menangani penyakit seperti ini ujar seorang mantri kesehatan kepada Hambali.

Hambili terdiam sejenak, seperti ragu untuk mengatakan sesuatu

Ya sudah biar saya yang urus pak ujar Hambali.

******

Mobil komando jenis jip Wilis meluncur keluar dari pintu gerbang penjara wanita itu, yg dikemudikan oleh Hambali, disampingnya seorang wanita berusia 23 tahunan yg tampak lemah dan pucat bersandar pada kursi mobil, dialah Mumun yg saat itu sedang menderita penyakit malaria.

Entah apa yg membuat Hambali begitu perhatiannya pada wanita ini, seorang wanita tahanan dengan kasus keterlibatannya pada partai terlarang, yang saat itu begitu dipandang nista oleh masyarakat karna memang imej yg diberikan oleh pemerintah adalah seperti itu,dengan aksi propagandanya yg luar biasa sehingga timbul kebencian yg mendalam dari masyarakat kepada orang yg tersangkut PKI.

Bahkan Hambalipun tau kalau Mumun adalah seorang ronggeng yg juga merangkap sebagai palacur, itu didapatnya dari data intrljen mengenai data-data personal para tahanan yg filenya dia susun sendiri.

Sejak pertama melihat Mumun, pemuda ini memang sudah tertarik, walaupun hanya sekedar tertarik melihat kecantikan Mumun, sekedar membuatnya sebagai objek cuci mata disela-sela kepenatannya melakukan pekerjaan pembukuan dan penyusunan file-file yg njlimet dan melelahkan pikirannya.

Namun lama-kelamaan karna seringnya itu berlangsung, hal itu berubah menjadi suatu kebutuhan, ada rasa yg kurang bila satu hari tak melihat Mumun, walaupun hanya sekedar melihat, seperti halnya hari-hari sebelumnya, pun hanya melihat, tak ada yg lebih, bahkan saling berbicarapun hanya sepatah dua.
walaupun bisa saja Hambali memaksa Mumun untuk melayani hasrat birahinya, toh tak ada yg perduli dengan apapun yg dilakukan pada para tahanan itu. Namun memang pada dasarnya watak pemuda itu bukanlah jenis orang yg arogan, sehingga hanya memandanglah yg ia lakukan.

Dan Mumun bukannya tidak menyadari akan perhatian yg diberikan Hambali, perhatian yg sama yg pernah ia terima saat masih tinggal dipadepokan dulu, masih ingat betul dirinya selalu diperhatikan oleh seorang pemuda tanggung tetangganya, pemuda yg selalu mencuri pandang padanya, dan dengan tersipu akan segera memalingkan matanya ketempat lain saat Mumun balas menatap. Hal itulah yg saat ini kembali dirasakannya dari Hambali, namun Hambali bukanlah seorang pemuda tanggung, sebagai seorang laki-laki dia sudah cukup matang dengan usianya yg genap 24 tahun, seorang perwira pula, yg sebetulnya memiliki kewenangan penuh dipenjara itu, dan dapat melakukan apapun pd dirinya.

*******

Atas nama siapa pak? tanya seorang petugas apotik di Rumah sakit itu.

Endang suharti, adik saya jawab Hambali, yg saat itu bersama Mumun setelah tiga hari lamanya mendapat perawatan inap di Rumah Sakit Tentara Pusat dikawasan Kwini itu (sekarang RSPAD Gatot Subroto), kesehatannya kini telah kembali pulih dari penyakit malaria yg menyerangnya . dan dipastikan dirinya telah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit itu, karna telah dinyatakan sembuh.

Bisa saya pinjam KTP nya ibu Endang?

Wah, kami tidak sempat membawanya ses sebab waktu itu kami sangat terburu-buru

Kalau begitu tolong saya liat KTA bapak

Baik, ini ses.. seraya Hambali memberikan kartu seukuran KTP yg merupakan kartu tanda anggota ABRI kepada petugas apotik. Yg hanya beberapa saat kemudian dikembalikannya lagi setelah selesai menyalin nya, dan memberikan beberapa obat.

Yang ini diminum 3 kali sehari, sehabis makan.. dan yang ini vitamin diminum 2 kali sehari pagi sore terang petugas itu.

*******

Kamu sebaiknya tinggal ditempat familiku dulu mun, sekitar tiga hari untuk pemulihan, setelah itu aku antar kembali ke bukit duri jelas Hambali sambil mengemudikan mobilnya.

Terserah bapak aja, saya sih ikut aja.. jawab Mumun, yg duduk disamping Hambali.

Hambali sadar sepenuhnya bahwa yg dilakukannya itu adalah melanggar dari ketentuan-ketentuan yg telah digariskan oleh kesatuannya, dan akan mendapatkan sangsi yg cukup tegas bila sampai ketahuan. Namun sebuah perasaan lain didalam hatinya terhadap Mumun jauh lebih menguasai hatinya, sehingga ia nekat menerjang semua ketentuan-kentuan yg ada, dan dengan segala konsekuensi yg bakal menimpanya.

Kamu bisa istirahat disana, itu rumah Bude ku. Nanti kamu jangan mengaku kalau kamu adalah tahanan bukit duri. kamu seolah adalah adalah teman lamaku, dan kita baru berjumpa di Jakarta ini saat kamu tersesat, ya.. bilang saja kamu berasal dari Cikampek atau Kerawang.. tapi biarlah nanti aku sendiri yg bicara dengan Bude ku.. oh iya, nanti jangan kamu memanggil aku dengan sebutan Pak saat didepan Budeku, kau bisa panggil aku Mas Hambali, atau Mas Ham untuk lebih singkatnya jelas Hambali. Terheran juga Mumun dengan perhatian yg diberikan Hambali, dirinya tak menyangka Hambali akan mau berbuat sejauh ini kepada dirinya, tadinya dia berpikir bahwa Hambali sering mencuri perhatian pada dirinya dipenjara hanyalah sekedar iseng, atau sebatas ketertarikan akan kecantikannya semata, bahkan sempat Mumun menyangkanya itu hanyalah tatapan seorang lelaki mata keranjang yg tertarik dengan kemolekan tubuhnya.

Kenapa Bapak ngelakuin ini semua untuk saya? tanya Mumun , namun hambali tak menjawabnya, kecuali melirik kearah Mumun sejenak, lalu perhatiannya kembali tertuju pada jalan raya didepannya.

******

Keesokan harinya, mobil jip wilis memasuki halaman rumah Maryati, wanita setengah baya yg hanya hidup seorang diri setelah ditinggal mati suaminya.

Hambali keluar dari mobil, kali ini tanpa mengenakan pakaian dinas, disapanya Maryati dan mumun yg saat itu sedang berbincang diteras rumah.

Selamat sore Bude Mar gimana mun, sudah agak baikan badanmu? ujar Hambali, seraya menghempaskan dirinya pada kursi rotan diteras.

Kayaknya sih udah mendingan mas.. udah segeran nih badan jawab Mumun.

Bude kebelakang sebentar, tak bikinin kamu kopi dulu.. ujar Maryati, seraya ngeloyor menuju kedalam rumah, meninggalkan Hambali dan Mumun berdua.

Perbincangan hangat keduanya pada sore itu sama sekali tak memperlihat bahwa keduanya sesungguhnya adalah tahanan dan pengawas, yg ada hanyalah dua orang pemuda yg berlainan jenis yg memiliki ketertaraikan satu sama lain. Dan pada perbincangan itulah Mumun baru mengetahuinya kalau hambali adalah seorang pria lajang, anak tunggal dari keluarga petani di daerah Klaten jawa-tengah, yg setelah lulus dari Akademi Militer langsung ditempatkan bertugas di jakarta ini.

Gimana kalau malam ini kita nonton di Bioskop? Di bioskop Megaria ada film bagus nih, film koboy.. tawar Hambali.

Saya sih mau aja mas, tapi apa Mas hambali enggak malu, saya kan tahanan PKI mas..

Ah, sudah lah, tak usah kamu pikirkan itu.. ujar Hambali seraya menarik tangan mumun untuk menuju ke mobil.

******

Pukul Sembilan malam Mumun dan Hambali keluar dari gedung Bioskop dikawasan Cikini tersebut. tampak poster film besar bergambarkan seorang mengenakan topi koboy sambil memegang senjata dengan bertuliskan judul A Fistful of Dollars, sebuah film western yg dibintangi oleh aktor Clint Eastwood, yg diproduksi tahun 1964, sebuah film amerika tentunya, jenis film yg sebelumnya dilarang beredar ditanah air oleh LEKRA, karena dianggap bagian dari budaya imperialis.

Gimana Mun, bagus ya film nya? tanya Hambali, seraya menstater mobilnya.

Bagus mas, rame.. tembak-tembakan mulu jawab Mumun polos.

Tapi sebelumnya film-film seperti itukan dilarang beredar di Indonesia, dianggap budaya Imperialis, kapitalis ha..ha..ha.. budaya kapitalis memang selalu nikmat, dan memabukan. Semoga saja kita enggak sampai mabuk ya mun?

Ah, saya mah kagak ngarti gitu-gituan mas.. jawab Mumun, merasa tak paham dengan apa yg dibicarakan hambali.

Setibanya mereka dirumah Bude hambali, sang pemilik rumah ternyata sudah tidur. Sebelum Hambali kembali ke Mess tempat tinggalnya, Hambali menyempatkan untuk mengobrol diruang tamu dengan Mumun, hampir setengah jam mereka mengobrol ngalur ngidul, sebelum akhirnya Mumun menanyakan sesuatu.

Kenapa Mas Ham baik sama saya? tanya Mumun

Aku suka sama kamu mun.. jawab hambali, sambil menunduk dan memainkan memijit-mijit jemari tangannya.

Mas Ham enggak takut nanti dapet kesusahan dari atasan Mas? tanya mumun lagi, yg hanya dijawab dengan senyuman oleh Hambali.

Kini tangan Mumun menggenggam jemari Hambali, seraya diberinya ciuman pada pipi pemuda itu

Makasih ya mas ucap Mumun, sambil mendaratkan bibirnya pada pipi Hambali, yg bersamaan dengan itu Hambali memalingkan wajahnya kearah Mumun, sehingga bibir mereka saling bertemu, Mumun sebagai wanita yg cukup berpengalaman dengan laki-laki, langsung mendekatkan bibirnya, seraya membuka mulutnya, kini bibir atas Hambali berada didalam pagutan bibir Mumun.

Mumun mulai memainkan lidahnya menyapu kesekujur bibir Hambali, lalu kemudian merangsak lidah itu masuk kedalam mulut Hambali, gelitikan ujung lidah Mumun didalam rongga-rongga mulut dan lidahnya membuat gairah pemuda itu bangkit, seraya dipeluknya tubuh Mumun.

Mumun mulai melepaskan blusnya, setelan blus yg dipinjamkan oleh Bude hambali. Kini Mumun hanya mengenakan bh dan celana dalam yg juga segera dilepaskannya kesemuanya sehingga kini benar-benar polos. Dari sikap Hambali Mumun dapat menangkap kalau pemuda itu memang belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, itu dapat dilihat dari reaksinya yg masih melongo melihat kearah tubuh Mumun.

Mumun segera menarik kepala hambali, sehingga wajah yg melongo itu kini berada didalam haribaan dua buah gunung kembar mumun yg masih cukup besar dan padat walaupun minimnya asupan gizi yg diterimanya selama 4 bulan didalam penjara. Sambil melumat puting susu Mumun, nafas hambali begitu memburu, itu dirasakan Mumun dengan hembusan hangat yg keluar dari mulut pemuda itu.

Mumun mulai mendesah merasakan kuluman mulut Hambali pada puting susunya, empat bulan tak pernah mendapat sentuhan lelaki membuatnya begitu bernafsu saat itu, terlebih lagi yg melakukannya adalah seorang pemuda yg cukup gagah dan tampan seperti Hambali, bukannya laki-laki tua setengah baya yg biasanya menjadi pelanggannya sewaktu dirinya masih menjadi penari ronggeng merangkap pelacur dulu.

“zzzzzzz….aaaaaaaahhhhh… Enak mas..terus mas diemutin. Uuuhhh ” erang Mumun, sambil tangannya memeluk kepala Hambali.

Beberapa saat kemudian Mumun melepaskan kemeja dan celana Hambali, hingga keduanya kini tanpa selembar benangpun pd tubuhnya. Lidah Mumun mulai menjilati dada bidang Hambali, dijilatinya puting Hambali sambil sesekali digigitnya dengan lembut. lalu lidah itu terus merayap kebawah hingga mencapai batang kontol Hambali yg besar dan berdiri tegak. Perkara yg satu ini memang Mumun adalah ahlinya, ahli dalam memuaskan birahi lelaki, dan kali ini keahliannya itu diterapkannya untuk memberikan kepuasan pada lelaki yg memberikannya setitik harapan itu, ya..harapan untuk dapat keluar dari neraka yg telah mengurungnya selama empat bulan. Keahlian yg dulu juga pernah diterapkannya pada Bagol untuk dapat melenyapkan Romlah yg adalah saingannya.

Lidah Mumun kini mulai menjilati sekujur batang kontol Hambali. Digelitiknya mulai dari buah pelir hingga pada lubang kencingnya, yg membuat jiwa Hambali seperti lapas dari raganya, lepas melayang-layang diatas awang birahi yg memabukan.

” Aaaaaaaaaaahhhhhh…nikmaaaaaaattttt…uuuuuuhhhhh ” erang Hambali yg masih duduk dikursi sambil tangannya meremas-remas kepala Mumun yg saat itu dalam posisi jongkok dilantai bersimpuh pada selangkangannya.

Kini Mumun mulai “mencaplok” batang kontol yg berdiri tegak itu kedalam mulutnya, seraya kepalanya bergoyang turun naik mengulum kontol Hambali yg saat itu semakin blingsatan dengan kepalanya yg ditengadahkan keatas langit-langit kamar, mulutnya tampak terbuka, berkebalikan dengan kelopak matanya yg terpejam menikmati sentuhan mulut Mumun pada batang zakarnya.

Melihat reaksi Hambali yg begitu menikmati aksi yg diberikannya, semakin liar mulut Mumun mempermainkan batang kontolnya, sesekali diberikannya sedikit sentuhan kasar, digigit-gigitnya dengan lembut batang kontol hambali untuk memberikan sensasi yg berbeda. Sehingga sedikit menggelinjang Hamdani dibuatnya akibat rasa sedikit ngilu pada zakarnya.

Ekspresi Mumun yg selalu menatap kearah Hambali disaat melakukan aksi blow-jobnya memberikan sensasi tersendiri bagi Hambali, suatu ekspresi wajah yg menggoda baginya, ekspresi binal, dan memabukan, sehingga dengan gemas diangkatnya kepala Mumun mendekati wajahnya, yg dengan rakus dilumatnya bibir yg baru saja mengoral batang kontolnya itu, air liur Mumun yg masih menggumpal dimulut dan dagunya dihurup oleh Hambali dengan rakus, rasa jijik sudah terkesampingkan, kini nafsu birahi yg menjadi panglima pada dirinya.

Dikamar aja yuk mas? Entar kalo Bude Mar bangun kan malu kita.. bisik Mumun lembut ketelinga pemuda yg sedang dibaluti oleh nafsu birahi itu.

Dengan menjinjing pakaian mereka yg sebelumnya berserakan dilantai, mereka bergegas menuju kekamar yg digunakan Mumun. Sesampainya didalam kamar Mumun melumat bibir Hambali beberapa saat, untuk kemudian mendorong tubuh pemuda itu hingga rebah telentang diatas kasur dengan batang kontol yg berdiri tegak.

Mumun segera mengangkangi tubuh hambali, dipegangnya dengan tangan kanannya batang kontol yg berdiri tegak itu, bless.. amblaslah batang kontol perjaka itu didalam lubang lubang memek yg telah berpuluh bahkan beratus kali dimasuki berbagai kontol dari berbagai macam laki-laki yg menjadi pelanggannya dulu. Mumun mulai memompakan pantatnya turun naik dengan berirama. Ekspresi Mumun yg mendesah dengan memejamkan mata, sambil kedua tangannya meremas-remas buah dadanya, memberikan Hambali sebuah pemandangan yg erotis baginya.

Mas Ham belum pernah beginian ya? tanya Mumun sambil tersenyum, dengan masih memompakan bokongnya naik turun.

Zzzzzz..aaaahhh..belum pernah Mun ini yg pertama kali jawab Hambali sambil sesekali mendesah menikmati goyangan pantat Mumun yg mempenetrasikan otot-otot memeknya pada batang kontolnya.

Dalam waktu hanya beberapa menit tubuh keduanya telah basah oleh keringat, sehingga kulit tubuh mumun yg mulus tampak berkilat karena keringat, goyangannya terlihat semakin liar, dengan kedua tangannya yg bertumpu pada dada Hambali sesekali pantatnya bergoyang memutar seperti mengulek.

Sekian lama liang vaginanya tak tersentuh oleh sentuhan batang kontol membuat sensitifitas organ-organ intimnya lebih peka, hingga beberapa saat kemudian goyangan pantatnya bergerak dengan kecepatan yg tinggi, bersamaan dengan lenguhan panjang dari mulutnya yg menandakan Mumun telah mencapai orgasme.

Aaauuuuuhhhgggggggghhhhh.saya kelua..aaarrr.. maassss..aaaaahhhh.. erang Mumun, dengan dibarengi aliran air maninya yg membanjiri liang memeknya.

Tubuh Mumun serasa lemas setelah mencapai puncak pendakiannya, namun rasa untuk ingin memuaskan Hambali membuatnya untuk terus konsisten dengan goyangannya, dan melupakan rasa letih yg dirasakan. Baginya kepuasan pemuda yg memberinya sedikit harapan itu adalah prioritas utama, jauh lebih penting dari pada saat dirinya memberikan kepuasan pada pelanggan-pelanggannya dulu.

Hingga beberapa saat kemudian tubuh Hambali menegang, diikuti dengan lenguhan panjang yg keluar dari mulutnya.

Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh.. hanya itu yg keluar dari mulut mulut Hambali, diikuti dengan gerakan pantatnya yg menyentak-nyentak beberapa kali seiring dengan keluarnya sperma yg menyembur dari lubang penisnya.

Hanya beberapa detik momen itu berlangsung, sebelum akhirnya pemuda itu menyudahi sensasi orgasme dalam berhubungan badan dengan seorang wanita untuk yg pertama itu

Tubuh pemuda yg bermandikan peluh itu tampak lemas, namun segurat senyum menghiasi bibirnya, senyum kepuasan yg mengakhiri keperjakaannya selama 24 tahun itu.

Ih, Mas Ham sekarang udah kagak perjaka lagi ya..? hi..hi..hi.. goda Mumun, yg masih berada diatas tubuh hambali .
Ah, biarin.. balasnya, seraya tangannya merangkul tubuh Mumun, kini tubuh mumun ambruk menindihi tubuh hambali yg berada dibawahnya, bibir mereka kembali saling melumat. Dan batang kontol Hambali masih bersarang didalam lubang memek Mumun.

******

Selesai mandi Mumun kembali kamar, kali ini dengan baskom yg berisi air hangat dan selembar handuk kecil. Hambali masih terbaring malas diatas kasur, batang kontolnya kini telah tertidur lemas menjuntai loyo dipaha kirinya.

Untuk apa itu Mun? tanya Hamdani, atas sebaskom air yg diletakan mumun diatas meja disamping tempat tidur.

Di elap dulu badannya mas, biar enakan.. jawab Mumun, sambil mencelupkan handuk kecil kedalam baskom yg berisi air hangat kemudian memerasnya.

Kini handuk yg telah basah itu disapukannya kesekujur tubuh Hambali, yg beberapa saat kemudian dicelupkannya kembali kedalam baskom mengulangi proses yg sebelumnya tadi, lalu kembali handuk itu mengelapi sekujur tubuh pemuda itu. Begitu telaten Mumun memperlakukan Hambali, hingga selangkangannyapun tak luput dari sentuhan handuk basah itu, termasuk juga batang kontolnya.

Batang kontol yg sebelumnya loyo itu mulai kembali berdiri oleh sensasi sentuhan yg diberikan Mumun.
Ih, kontolnya Mas Ham bangun lagi tuh. ujar Mumun, sambil mengelapi batang kontol hambali dengan handuk basah.

Habis kamu elus-elus begitu bagaimana enggak bangun.. jawab hambali sambil tangannya meraba-raba memek Mumun.

Auww.. Mas Ham, geli nonok saya mas pekik Mumun, saat hambali coba memasukan jari telunjuknya kedalam lubang senggamanya.

Nonok? Apa itu Mun? tanya Hambali

Kalo bahasa orang sini, ini dibilangnya nonok jelas Mumun sambil menunjuk kearah selangkangannya.

Emang kalo ditempat Mas Hambali, apa namanya? balas bertanya Mumun.

Tempek.. jawab Hambali

Tempek? Tempe kali.. ujar Mumun

Tempe..? memangnya makanan..? bantah hambali

Ini juga bisa dimakan Mas.. hi..hi..hi.. goda Mumun genit

Ah, yang benar kamu?

He-emm.. jawab Mumun sambil mengangguk pelan, dengan senyum yg menggoda dibibirnya.

Kalau begitu boleh ya aku makan, he..he..he.. goda Hambali cengengesan

Mumun memposisikan tubuhnya duduk bersandar pada dinding seraya membuka lebar-lebar pahanya memperlihatkan liang memeknya yg terbuka dihadapan Hambali.

Ayo mas.. katanya mau dimakan, hi..hi..hi.. tantangnya dengan genit

Glek..menelan ludah Hambali menatap sekerat daging yg berada didepannya, diperhatikannya beberapa saat pemandangan dihadapannya itu, pemandangan yg baru pertamakalinya dilihat sepanjang hidupnya. Pemuda itu tampak bingung sambil sesekali mengarahkan pandangannya pada wajah Mumun.

Dijijlat bisik Mumun sambil menjulurkan lidahnya untuk memberi contoh, lalu mengangguk perlahan untuk meyakinkan keraguan Hamdani.

Mengikuti apa yg dikatakan Mumun lidah hambali mulai menjulur, seraya menyapu dengan lembut kesekujur memek Mumun.

Nah, iya..begitu masaaaaaaaahhhhhhzzzzzzzzzz.. desis Mumun menikmati sapuan lembut lidah Hamdani.

Itilnya masjilatin itilnya.. pinta Mumun, sambil sesekali merintih nikmat.

Itil yang mana sih? tanya Hamdani polos

Yang ini mas, yg jendol-jendol ini..itu namanya itil jelas Mumun sambil menyentuh klitorisnya dengan jari telunjuknya. Yg segera dituruti oleh Hamdani dengan menjilatinya atau sesekali mengulumnya dengan gemas.

Hanya beberapa saat saja lidah Hambali sudah begitu lihai bergerilya menyusuri liang memek Mumun, seolah tak puas hanya menjilati area luar memek, kini lidahnya mulai merangsak kedalam liang senggama Mumun, sambil kedua ibu jarinya kini digunakannya untuk membentangkan bibir memek wanita 23 tahun itu.

Reaksi Mumun yg semakin blingsatan menambah semangatnya untuk terus memainkan lidahnya didalam rongga-rongga memek Mumun.

Hingga beberapa saat kemudian Hambali bangkit, seraya mengarahkan batang kontolnya pada memek Mumun yg mengangkang , bokongnya bergerak maju mundur dengan cepat dan berirama. Sementara mulut mereka saling berpagutan dengan rakus.

Dalam beberapa menit kemudian keduanya melenguh panjang menikmati orgasme yg bersamaan untuk yg kedua kalinya.

******

Mas Ham udah punya pacar di jawa? tanya Mumun. Tubuh telanjangnya saat itu duduk bersandar pada dada Hambali yg menikmati sebatang rokok, bokongnya yg padat merasakan sentuhan batang kontol pemuda itu.

Belum, kenapa memang? jawab Hambali seraya menghembuskan asap rokonya.

Ah, masak sih.. laki ganteng begini kagak punya pacar. Mana kontolnya gede lagi hi..hi..hi.. goda mumun sambil menekan-nekankan bokongnya pada batang kontol hamdani, seraya diambilnya rokok yg berada ditangan Hambali, dan dihisapnya

Kan sekarang kamu yg jadi pacar aku.. ujar Hambali, seraya mengecup kening Mumun dan mengambil kembali rokoknya yg berada ditangan Mumun

Mumun terdiam sesaat mendengar ucapan pemuda itu, sepertinya ragu untuk mengutarakan maksudnya, hingga akhirnya.

Tolong keluarin saya dari penjara itu mas.. saya takut, saya kagak mau mati disono.. pinta Mumun memelas.

Yg dijawab Hambali hanya dengan diam seribu bahasa sambil menghembuskan asap rokoknya. Dalam diamnya sepertinya pemuda itu tengah berpikir untuk merencanakan sesuatu. Sebuah rencana yg hanya diketahui oleh dirinya.

*******

Deru suara mobil truk yg mengusik keheningan malam itu dirasakan bagaikan suara dengus malaikat maut yg bersiap mengantar hidup mereka kealam kematian bagi para tahanan yg menumpanginya. Dari mulut beberapa tahanan wanita yg berjongkok menggerombol didalam bak truk itu sesekali terdengar lantunan ayat-ayat suci, dan beberapa hanya mampu menangis, sisanya terdiam pasrah dengan nasib yg akan membawanya.

Malam itu sekitar 30 orang penghuni penjara bukit duri diangkut oleh petugas, kesemuanya diberangkatkan kesuatu tempat dengan menggunakan sebuah truk tentara dengan bak terbuka yg dikawal oleh beberapa prajurit dengan senjata terhunus, salah satu diantara tahanan itu adalah Mumun, yg baru dua hari lalu diantar kembali kepenjara oleh Hambali.

Wajah Mumun tampak pasrah, mungkin ini adalah akhir dari hidupnya,pikirnya. Seperti yg mereka ketahui apabila beberapa tahanan diangkut dengan truk pada malam hari seperti itu, biasanya mereka tak akan pernah kembali, desas desus yg mereka dengar adalah bahwa mereka telah dieksekusi disuatu tempat yg mereka sendiri tak tau entah dimana.

Tak sampai lima belas menit, truk berhenti. Sepertinya telah sampai pada tempat yg dituju.

Ayo, semuanya turun seru seorang prajurit sambil memasangkan tangga pada belakang truk.

Dalam gelap tempat itu, Mumun mendengar suara gemericik aliran air yg tepat berada dibawahnya, yg kemudian baru disadarinya bahwa dirinya kini tengah berada dibibir sebuah sungai.

Berbeda dengan kebanyakan petugas yg ada dipenjara, petugas ditempat ini tak banyak berbicara apalagi menghardik, hanya wajah-wajah dengan tatapan dingin tanpa ekspresi yg Mumun rasakan, seraya diperintahkan seluruh tahanan untuk berbaris beriringan dengan menghadap kearah sungai.

Semuanya jongkok perintah salah seorang tentara, suara yg dingin dan datar, juga tanpa ekspresi.

Kini kesemua tahanan wanita itu berjongkok, yg kemudian Mumun merasakan matanya ditutup oleh sehelai kain, begitu juga dengan tangannya yg diikat kebelakang dengan menggunakan seutas tali tambang.

Senjata laras pendek jenis Baretta mulai diacungkan kearah belakang kepala salah satu tahanan yg berada pada posisi paling sudut.

Dooorrrr !! suara letusan keras memecahkan kesunyian dimalam jahanam itu, yg diikuti dengan suara benda terjatuh kedalam sungai, mayatnya mengapung, hanyut menyusuri panjangnya sungai Ciliwung untuk menjadi tumbal pergolakan politik yg begitu banyak memakan korban jiwa itu, bukan hanya puluhan, ratusan atau ribuan, namun ratusan ribu jiwa, bahkan konon mencapai hingga jutaan jiwa.

Mungkin sungai Ciliwung di Jakarta ini hanyalah gambaran kecil saja bila dibandingkan dengan sungai-sungai didaerah Jawa-tengah atau Jawa-timur. Gambaran yg paling mengerikan adalah sungai Berantas, yg konon airnya berubah menjadi merah oleh darah orang-orang yg diduga anggota PKI, bahkan airnya sampai meluap karna alirannya tersumbat oleh begitu banyaknya mayat yg dibuang kesana. Bayangkan, sungai Brantas yg begitu luas bisa terhalang laju alirannya oleh mayat yg menyumbat, mayat manusia. Entah berapa ribu mayat-mayat itu. Sehingga bisa dibayangkan betapa horrornya suasana pada saat itu.

Setelah suara letusan pertama itu terjadi, secara berbarengan terdengar suara tangis perempuan-perempuan malang yg sedang menunggu gilirannya itu, bercampur dengan lantunan ayat-ayat suci dan doa-doa memohon pertolongan kepada sang khalik.

Sang algojo tak sedikitpun bergeming dengan apa yg didengarnya, baginya itu adalah suara lantunan kur kematian yg memang sudah seharusnya seperti itu, kur yg juga selalu didengar pada eksekusi-eksekusi sebelumnya. hingga pecah letusan yg kedua, ketiga dan seterusnya.

Hingga kini giliran Mumun yg merasakan benda keras itu menyentuh belakang kepalanya, dirinya telah pasrah menyambut kematian yg sudah didepan mata, dalam detik-detik terakhirnya itu sepertinya Mumun melihat bayangan wajah Romlah yg dulu pernah dibunuhnya walaupun tidak dengan tangannya secara langsung. Namun tak ada didengarnya suara letusan kecuali suara Klik..klik.. tarikan pelatuk pistol.

Kopral, melinjonya abis nih ujar sang eksekutor kepada bawahannya untuk mengambilkan peluru, yg segera dituruti oleh prajurit itu dengan membawakan satu kotak penuh peluru, seraya diambilnya beberapa lalu diisikannya pada pistolnya.

Pistol telah diisi kembali, sang eksekutor siap melakukan tugasnya yg tertunda. Diacungkannya ujung pistol pada belakang kepala Mumun. Namun tiba-tiba kegelapan ditempat itu disilaukan oleh nyala lampu mobil kearah sang eksekutor, hingga niatnya kembali tertunda.

Sersan, tunggu dulu.. saya Letnan Hambali.. saya baru saja mendapat perintah dari pusat, untuk membawa tahanan yg bernama Siti Munaroh yg akan dikirim ke penjara Plantungan bersama dengan ratusan lainnya yg akan diberangkatkan besok pagi..ini surat perintahnya dibacanya sejenak surat yg diberikan Hambali, seraya dikembalikannya lagi setelah yakin.

Baik Letnan, laksanakan.. ujar sang sersan.

Siti Munarohdimana yg namanya Siti Munaroh, jawab teriak sang kopral.

Sa..saya..pak. saya Munaroh.. jawab Mumun sambil tergagap-gagap karna rasa tegang yg masih dirasakannya.

*****

Mobil jip dinas Hambali melaju, setelah memboyong Mumun dari tempat pembantaian itu, masih terdengar oleh Mumun suara letusan senjata api yg diikuti dengan suara benda jatuh kedalam air.

Beberapa kilometer kemudian Hambali menghentikan mobilnya, seraya mengeluarkan bungkusan dari bawah joknya.

Ganti pakaian kamu dengan ini, cepat.. perintahnya kepada Mumun, yg dengan cepat segera diikuti oleh Mumun, dengan melepaskan dasternya dan menggantinya dengan jarik dan kebaya itu.

Ingat Mun, mulai sekarang namamu adalah Suprapti, lahir: Wonogiri, 4 januari 1942, itu jati dirimu yg baru, kamu harus ingat itu Siti Munaroh sekarang sudah mati, dieksekusi pada malam ini, itu yg tertulis dalam catatan inteljen ini KTP kamu, kamu simpan baik-baik. Sekarang kamu pergi kerumah Bude Muryati, kamu bisa naik becak, aku tidak bisa mengantarmu, malam ini terlalu banyak intel yg berkeliaran.. besok sore aku akan menemuimu dirumah Bude Mur.. ini uang untuk naik becak.. jelas Hambali

Ingat, bersikaplah wajar.. jangan gugup, itu akan menarik perhatian pesan Hambali, kepada Mumun yg saat itu mulai melangkah kearah jalan setapak yg ditunjuk oleh Hambali, yg saat itu Mumun sudah mengenakan kebaya dengan kerudung yg menutupi kepalanya.

Hanya beberapa langkah, tiba-tiba Mumun berbalik kearah hambali yg masih berdiri didepan mobil dinasnya, dipeluknya tubuh pemuda itu, seraya bibirnya mereka saling berpagutan, sebuah ungkapan rasa terimakasih yg tak dapat dibendung, ungkapan yg tulus yg diberikan oleh Mumun kepada hambali, yg tak bisa lagi dapat diucapkannya dengan kata-kata.

Cinta memang membutakan segalanya, dan juga mematikan akal sehat. itulah yg dirasakan oleh Hambali, yg buta akan akan latar belakang Mumun yg dulunya adalah seorang pelacur. Dan juga buta akan akibat yg dapat menimpanya apabila sampai kedapatan bahwa dirinya telah melakukan pemalsuan data inteljen terhadap Mumun, konsekuensi yg didapat bukan hanya sekedar sangsi indisipliner, tapi itu sudah merupakan suatu tindak penghianatan, konsekuensi bagi penghianat dikalangan prajurit adalah mati, dan itu disadari betul oleh Hambali.

Pemalsuan yg dilakukan Hambali adalah surat perintah pengambilan Mumun untuk dipindahkan ketahanan Plantungan didaerah Kendal Jawa-tengah, dan yg kedua adalah pemalsuan data-data tahanan yg telah dieksekusi. Dimana didalam catatannya dinyatakan bahwa Siti Munaroh adalah salah satu tahanan yg dieksekusi pada malam itu. Pemalsuan yg ketiga adalah KTP palsu yg dibuatnya untuk memberikan jati diri Mumun yg baru.

******

Pada keesokan harinya Hambali menemui Mumun, dan untuk menghindari hal-hal yg dikawatirkan, dikirimnya Mumun ke Jogja, ke rumah sahabatnya.

Malam ini juga kamu pergi ke Jogja, nanti disana sahabatku telah menjemputmu, hanya dia orang yg dapat kupercaya.. nanti malam kuantar kamu ke Gambir terang Hambali

Sekitar dua minggu sekali Hambali menyempatkan menemui Mumun selama tinggal di Jogja. Dan dalam tiga bulan setelah itu Hambali menikahi Mumun, yg kemudian Mumun tinggal dirumah orang tua Hambali di Klaten.

Pada tahun 1972 Hambali ditugaskan didaerah Lampung, yg kemudian diboyongnya sekaligus istri dan ketiga orang anaknya.

Hambali ditugaskan diLampung hingga masa pensiunnya pada tahun 1996, yg kemudian meninggal karena sakit jantung yg dideritanya pada tahun 2007, dengan meninggalkan Mumun dan 2 orang putra serta seorang putri, juga beberapa cucu. Dan hingga saat ini Mumun masih tinggal diLampung bersama anak bungsunya yg juga sudah berkeluarga.

.

Bersambung…

Author: 

Related Posts