Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 27

Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 27by adminon.Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 27Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 27 CHAPTER 20 : LOST IN THE ECHO —————————————— Apa kita beritahu saja kalau penyelidik untuk kasus ini berbahaya? tanya si wanita dengan tatapan cemas. Tidak usah, kita hanya melakukan pekerjaan yang mereka suruh, jawab si lelaki pelan. Dan sebaiknya kau berhati-hati, urusan ini […]

tumblr_nn4eszmJrw1ut5og6o2_1280 tumblr_nn4eszmJrw1ut5og6o3_500 tumblr_nn4eszmJrw1ut5og6o4_1280Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 27

CHAPTER 20 : LOST IN THE ECHO
——————————————

Apa kita beritahu saja kalau penyelidik untuk kasus ini berbahaya? tanya si wanita dengan tatapan cemas.
Tidak usah, kita hanya melakukan pekerjaan yang mereka suruh, jawab si lelaki pelan.
Dan sebaiknya kau berhati-hati, urusan ini semakin berbahaya, kata silelaki sambil meremas pantat bulat siwanita.
Huhhhh, aku bosan! Hanya kadang-kadang aku bisa seperti ini denganmu! kata siwanita dengan nada marah.
Hahaha, mau lagi sayang? tanya si lelaki dengan senyum mesum.
Dan jawaban siwanita hanya memasukkan penis tegang silelaki kedalam vaginanya yang basah.
Dan hentakan pantat serta lenguhan nikmat mulai terdengar diruangan itu

——————————————
Lidya POV.

Hmmm, begini Lid…,

Sepuluh tahun lalu, ayah dah saudara kembar Andri, berlibur di villa kami didaerah Puncak , sedangkan mbak, mama dan Andri akan menyusul kemudian karena mbak ada ujian waktu itu kata Mbak Anisa dengan wajah menerawang.

Ketika kami sampai divilla keesokan harinya, kami melihat mobil bapak dikejauhan menuruni bukit dengan kecepatan tinggi, dan…, kata Mbak Anisa. Terlihat kesedihan diwajahnya.Dan mobil bapak masuk jurang, terbakar. Kami mencoba mencari kejurang, namun yang tersisa hanya tumpukan abu dan puing, Terang Mbak Anisa. Kali ini matanya sedikit berkaca-kaca. Kusentuh dengan ringan tangan Mbak Anisa dan dia sedikit tersenyum.

Dan saudara kembarnya Mas Andri bagaimana mbak? tanyaku penasaran.

Saat mobil bapak melintas, penjaga villa kami melihat bapak dan seorang anak kecil dikursi pengemudi, kemungkinan besar bersama,…bersa…ma saudara kembar Andri, lanjut Mbak Anisa.

Terus apa penyebab kecelakaan itu mbak?

Bunuh diri! Itu yang dikatakan polisi kepada kami, kata Mbak Anisa dengan marah.

Kok bisa polisi menyimpulkan seperti itu? tanyaku.

Divilla kami tidak ada barang-barang yang hilang ataupun tanda kekerasan, dan ada pesan dari bapak kalau bapak meminta maaf kepada kami, jawab Mbak Anisa. Yang membuat mbak dan mama tidak percaya, ayah tak punya dendam, musuh ataupun masalah, jadi tiba-tiba bunuh diri itu membuat kami tak percaya,lanjut Mbak Anisa, nada tak percaya dan marah terdengar disuaranya.

Terus bagaimana mbak?

Tapi kesaksian dari penjaga villa kami begitu kuat, dia melihat sendiri kalau bapak yang berada diposisi kemudi dan yang menyetir sampai kebawah bukit, walaupun pada saat itu menjelang malam, lanjut Mbak Anisa.

Karena kurangnya bukti dan saksi, kejadian itupun dianggap bunuh diri dan ditutup, lanjut Mbak Anisa.

Dan sejak itu, Andri berubah, dia yang biasanya ceria, tiba-tiba menjadi murung, tertutup dan tidak bersemangat, namun kemudian dia bertemu Frans saat sma, dan seiring waktu, dia kembali mendaparkan keceriaannya, walaupun mbak merasa terkadang dia menjadi seperti orang lain, kata Mbak Anisa.

Entah mengapa, dia memilih kuliah di Bali, jauh dari kami, mungkin untuk melupakan kejadian pedih yang ada disini, lanjut Mbak Anisa.

Setelah kuliah di Bali, dia kembali menjadi seperti Andri yang kami kenal dan itu membuat kami menjadi senang. Mbak Anisa terdiam cukup lama.

Wah bagus itu mbak! seruku.

Jadi si-mata-keranjang ini pernah kuliah di Bali?

Iya Lid, namun itu hanya sampai akhir semester saja, entah apa yang terjadi, setelah lulus dia malah suka mabuk-mabukan dan berubah menjadi pendiam, seru Mbak Anisa, terlihat sedikit senyum diujung bibirnya ketika dia menceritakan hal itu.

Tapi kenapa Mas Andri bisa sukses seperti sekarang? tanyaku, sedikit heran dengan kisah hidupnya.

Walaupun masih jauh lebih baik daripada keadaaanku.

Entahlah, suatu hari dia pergi kevilla kami di Puncak dan setelah pulang dia penuh dengan semangat, menghubungi temannya si amburadul Frans dan si robot Edy dan mendirikan perusahaannya yang sekarang. Dan entah bagaimana, kombinasi ketiga orang aneh itu malah membuat perusahaannya menjadi sukses. Mbak sendiri gak habis pikir, seru Mbak Anisa sambil menggelengkan kepalanya.

Semoga aja Mas Andri tetap seperti ini, sahutku sambil tersenyum.

Yah, semoga saja bisa tetap seperti ini, eh, udah tahu kebiasaan buruk Andri kan? tanya Mbak Anisa dengan nada sedikit khawatir.

Eh, apa mbak? tanyaku.

Bagaimana aku bisa tahu? Baru juga kenal seminggu!

Eh, itu… Andri suka…

Mbak ini pesanannya,kata seorang pramusaji sambil membawakan seporsi nasi goreng untukku dan ayam goreng untuk Mbak Anisa. Tepat saat Mbak Anisa mau mengatakan kebiasaan buruk si-mata-keranjang.

Sekarang mari makan dulu deh yang tadi nanti aja lanjut, hihihi,seru Mbak Anisa.

Wajahnya yang tadi terlihat sedih, sekarang berubah menjadi gembira.

Aduuuhhhhh….penasaran sungguh mati aku penasaran….

Kembali aku dibuat heran dengan perubahan suasana hati Mbak Anisa yang begitu cepat.

Gak makan Lid? Apa lagi diet? kata Mbak Anisa membuatku tersipu.

Gak usah diet untuk si kunyuk Andri tu, biarin aja, ngapain repot-repot, saran Mbak Anisa.

Aku bukan pacarnya mbak.

Kamu udah seksi gini, pasti ngiler terus dah si Andri kalau lagi sama kamu, kata Mbak Anisa blak-blakan yang kembali membuat pipiku memerah.

Hihihi. Kalau Andri macem-macem, jangan aja dikasi jatah, entar pusing sendiri dah dia, hihihi.., ujar Mbak Anisa blak-blakan yang membuatku tersedak.

Uhukkk…uhuuukkk…,

Waduh, kalau makan pelan-pelan Lid, ini minum dulu, kata Mbak Anisa sambil menyerahkan segelas air minum.

Mbak, aku tersedak gara-gara mbak nih….

Andri POV.

Mbak, saya ingin kamar yang ada internetnya, kataku kepada suster yang akan membawaku kekamar.

Wah, ini rumah sakit mas, mana ada internetnya? kata si suster dengan geli.

Wah, kalau begitu kamar yang ada mbak yang mana? tanyaku yang membuat suster yang berambut pendek sebahu wajahnya memerah.

Semua kamar nanti ada saya mas, sahutnya diplomatis.

Kalau begitu, saya minta kamar yang tenang, dan bisa menggunakan handphone saja mbak, pintaku kepada suster yang bertugas mengurus transferku dari ruang ICU.

Hmmm, ada ruangan VIP yang kosong mas, sahutnya sambil menoleh kepadaku.

Kami ambil yang itu saja, terdengar suara ibuku dari samping ranjang.

Kalau begitu silahkan ibu mengurus administrasinya dulu, nanti kami segera pindahkan pasien,sahut suster berambut pendek sebahu sambil tersenyum.

Baik sus, sahut ibu dan berlalu keluar dari kamar, begitu pula dengan para suster.

Akhirnya aku bisa sendirian juga.

Kupejamkan mata dan membayangkan kejadian yang terjadi.

Bukan!

Itu bukan kecelakaan biasa! Siapapun yang berada dibelakang semua ini, mereka tidak sendirian dan bukan amatiran. Ledakan di mobil, api ledakan yang berwarna putih kekuningan.

Bom?

Dan luka tembakan ini.

Bukan, ini bukan kecelakaan. Tapi mengapa dan kenapa?

Dan kenapa Ade, kemudian aku yang menjadi korbannya?

Pikiranku menerawang, dari saat di Semarang, kemudian mendapat kabar Ade meninggal, email Ade, ledakan, tembakan!

Tunggu.

Email Ade, itu kuncinya! Dan bila semua yang terjadi saat ini hanyalah sebuah:

Missdirection!

Hmmm, semua begitu nyambung sekarang, tapi, buktinya?

Kenapa mereka bersusah payah meledakkan mobil, kemudian menembakku? Pasti ada sesuatu yang mereka ingin hilangkan.

Tapi apa?

Sebuah kutipan tiba-tiba teringat dikepalaku;

How often have I said to you that when you have eliminated the impossible, whatever remains, however improbable, must be the truth?

Seberapa sering aku katakan padamu ,jika kau telah menyingkirkan hal yang mustahil, apapun yang tersisa, betapapun mustahilnya, adalah sebuah kebenaran

Tapi pertama-tama, aku perlu data yang cukup. Fakta, bukan retorika semata.

Krieeettttt.

Pintu perlahan terbuka, dan kulihat wanita yang melahirkanku ada diambang pintu. Wajahnya terlihat lebih tua beberapa tahun sejak terakhir kali aku melihatnya. Persaaan bersalah menghampiriku, mengingat bisa dihitung dengan jari aku menemuinya akhir-akhir ini.

Bagaimana nak? Sudah baikan? tanyanya dengan lembut. Nada dan sikap yang tak pernah berubah. Pandangan matanya teduh, seperti menembus kerelung hatiku.Bisa kurasakan perasaan hangat mengembang didadaku.

Sudah baikan kok bu, jawabku pelan. Menahan gelora dihatiku.

Tangannya yang dulu menyuapiku sekarang perlahan membelai rambutku dengan lembut. Tangan yang dulu memandikanku dan mencubitku jika aku berbuat nakal.

Demammu sudah turun, kata dokter kamu harus istirahat minimal satu minggu di rumah sakit, terangnya.

Tapi bu, aku ada deadline lagi 10 hari, jawabku.

Uang masih bisa dicari nanti, kesehatanmu lebih penting, nanti ibu dan kakak serta pacarmu akan bergantian menjagamu, katanya sambil tersenyum. Senyum yang selalu bisa meluluhkan egoku.

Ya sudah, sekarang istirahat dulu, pacarmu disita sama kakakmu, kata ibu sambil tersenyum simpul.

Pacar? Eh?

Oh iya! Maksudnya pasti si-celana-dalam-putih.

Kalau dia, ibu setuju kok, sambungnya.

Alamak… makin ruwet nih….

Bu, dimana jadi dapet kamar? tanyaku mengalihkan perhatian.

Dikamar VIP, seperti permintaanmu, disana kamu bisa pakai handphone, tapi istrahat dulu Ndri, nanti saja kerja kalau sudah mendingan, saran ibu seperti biasa.

Iya bu, jawabku sambil menunduk.

Permisi bu, kami mau mindahin pasien ke kamar dulu, seorang suster didepan pintu. Terlihat 3 orang suster dipintu, mungkin mereka mau membantuku untuk pindah kamar.

Ohhh, silahkan, sahut ibu dan keluar dari kamar.

Suster-suster cantik itu lalu dengan cekatan mempersiapkan kepindahanku.

Mas, ini pakaiannya mau dibawa juga? tanya si-rambut-poni.

Eh, pakaian apa mbak? tanyaku.

Ini mas, kata si-rambut-poni sambil memperlihatkan sebuah tas yang berisi pakain wanita.

Pakaian si-celana-dalam-putih.

Iya mbak, taruh disini saja, kataku sambil menunjuk arak kakiku.

Ayo, satu, dua, tiga!

Pada hitungan ketiga perlahan tempat tidurku didorong menuju keluar dan menuju kekamar. Rasanya sedikit lega setelah keluar dari ruangan ICU yang dipenuhi dengan instrument-instrument kesehatan.

Ibu dengan tersenyum ikut berjalan disampingku. Keberadaannya membuatku menjadi lebih nyaman. Sementara itu dibelakangku bisa kurasakan si polisi yang dari tadi menjaga didepan pintu turut ikut.

Akhirnya kami sampai diruangan VIP. Kamar ini cukup luas, dengan AC dan televisi, dan juga ada satu sofa disamping ranjang. Ada juga jendela yang membuat bisa melihat keadaan diluar. Dan pemandangan kota Jakarta terlihat dari celah tirai yang sedikit terbuka. Seperti yang kuminta, ruangan ini berada dipojok dari wing kanan rumah sakit. Otomatis berada dipojok. Mungkin supaya aktifitas disini tidak mengganggu ruangan yang lain dan begitu sebaliknya.

Bu, pasien belum boleh minum atau makan dulu ya sebelum buang angin, kata si-rambut-poni.

Iya dik, sahut ibu sambil tersenyum.

Bu, dimana nenek lampir? tanyaku, aku takut jangan-jangan dia nanya yang macam-macam sama si-celana-dalam-putih.

Tadi masih ngajak pacarmu sarapan, kasihan, wajahnya sudah pucat tadi, kata ibu.

Dan kembali perasaan bersalah menderaku.

Suatu saat aku harus membalas apa yang telah dilakukan si-celana-dalam-putih.

Toktoktok

Selamat pagi, sapa seorang lelaki didepan pintu kamar kami. Dari pakaiannya aku bisa menduga kalau mereka adalah polisi.

Selamat pagi, sahut ibu.Ada yang bisa kami bantu pak? tanya ibu melihat pakaian yang dikenakan mereka.

Selamat pagi bu, kami dari kepolisian, saya Herman dan ini rekan saya Galang, sahut polisi yang lebih gendut sambil menjabat tangan ibu.

Benar ini saudara Andri? tanyanya sambil menunjuk kearahku.

Benar pak, ada yang bisa saya bantu? tanyaku.

Begini, kami ingin menanyai Saudara Andri terkait dengan kematian Ade Mahendra, karyawan anda, dan mengenai kasus penembakan yang anda alami sendiri, terang sipolisi gendut. Terlihat tidak sabaran.

Andri baru saja sadar pak, tidak bisa pemeriksaannya diundur? tanya ibu dengan nada melindungi. Terlihat kerut diwajahnya mengetahui kalau pemeriksaan akan dilakukan sekarang juga.

Kami juga tidak ingin mengganggu saudara Andri, tapi dengan data yang lebih cepat dari kesaksian yang saudara Andri berikan, mungkin kami bisa menangkap pelaku, sahut sipolisi gendut. Sedangkan rekannya yang lebih kurus hanya diam.

Baiklah pak, tapi tidak lebih dari 30 menit! kata ibu dengan nada tegas. Ketegasan yang dulu membuatku tidak bisa berkutik.

Iya bu, kami usahakan, kata si polisi gendut dengan senyum diwajahnya.

Kalau begitu saya permisi dulu, sahut ibu.Ndrii, ibu kekantin dulu, jangan dipaksa, kalau sudah gak kuat, istirahat saja ya, kata ibu sambil keluar ruangan.

Si polisi kurus dengan langkah tenang menutup pintu.

Jadi bisa kita mulai? tanya si polisi gemuk sambil memandang kearahku.

Aku hanya mengangguk ringan menanggapi pertanyaannya.

Kulihat si polisi gemuk mengambil catatan dari kantong kemejanya dan memandang kearahku.

Apa anda mengenal Saudara Ade Mahendra? tanyanya.

Tentu saja, dia kepala programmer di perusahaan saya, sahutku tenang.

Apa anda mengenalnya secara pribadi?

Mungkin hanya sebatas teman tukar pikiran di bidang programming, sahutku.

Apa anda tahu hobi Ade Mahendra? tanyanya, sambil memandangku lekat-lekat.

Hobi yang mana? Setahu saya Ade mempunyai banyak hobi, jawabku diplomatis.

Bisa anda sebutkan? tanyanya lebih lanjut.

Merokok, minum-minuman bersoda, nyari wanita teman kencan, nonton film xxx, programming dan hacking, sebutku.

Jadi anda tahu kalau Ade suka jajan? tanyanya sambil mencatat di catatannya.

Tentu saja, mungkin semua orang di perusahaan saya tahu hobinya itu, sahutku sambil balik memandangnya.

Dan anda tidak melarangnya? tanyanya dengan wajah yang sedikit jijik.

Dan kenapa saya harus melarangnya? Selama itu tidak menurunkan kinerja staff saya, saya tidak akan terlalu mengatur kehidupan pribadi mereka, jawabku.

Ehhmm, dimana anda waktu Ade terbunuh?

Dan kapan tepatnya Ade terbunuh? Berdasarkan telepon yang saya peroleh, kejadiannya saat saya berada di Semarang, sahutku.
Si polisi gemuk menoleh kepada temannya yang lebih kurus.

Saudara Ade meninggal hari Selasa malam, bisakah saya tahu anda berada dimana saat itu, dan bersama siapa? tanya polisi kurus.

Tenang, lugas, intonasi yang datar.

Lawan yang berat, pikirku.

Hari Selasa saya berada di Semarang, bersama Raisa, sekretaris dari Alfa Medika, perusahaan dimana saya mengerjakan proyek saat ini, sahutku.

Selalu? tanya si polisi kurus.

Singkat.

Mengena.

Dari pagi sampai siang kami ada dipabrik Alfa Medika di Semarang, kalau sore sampai pagi harinya saya ada di villa nya Raisa, jawabku terus terang.

Apa ada orang yang bersama anda?

Ada, Raisa, jawabku sambil tersenyum.

Apa yang anda minta saudara Ade kerjakan ketika anda berada di Semarang? tanya si polisi kurus sambil memandang kearahku.

Perusahaan saya dan Delta Company sedang membuat satu joint project untuk Alfa Medika, Ade memimpin di programmingnya, jawabku.

Jadi tidak ada request khusus?

Hmmmm, sikurus ini detail sekali, pandangan matanya, sangat hati-hati, jauh lebih berpengalaman dari yang gemuk. Apa kedudukannya dikepolisian? Pikirku.

Sampai saat ini tidak ada.

Satu pertanyaan lagi untuk masalah Ade, apa anda pernah jajan bersama Ade, dan tahukah anda kalau Ade suka menggunakan obat kuat saat berhubungan? tanya si polisi kurus sambil memandangku dengan tajam.

Bersamanya? Sampai saat ini belum, untuk masalah obat kuat, Ade punya penyakit jantung, jadi hal yang bodoh jika dia menggunakan obat kuat kan? jawabku singkat.

Oke, untuk kasus penembakan anda, apakah anda tahu atau mencurigai siapa yang menembak anda? Tunggu, saya ganti, apakah anda tahu anda ditembak? tanya sikurus dengan ekspresi santai.

Hmmmm, orang yang licin.

Terus terang saya tidak tahu, saya tahu saya ditembak ketika si-ce, eh, maksudnya Lidya memberitahu saya kalau saya dioperasi karena luka tembak, jawabku terus terang.

Jadi anda tidak melihat pelaku atau anda mempunyai kecurigaan siapa yang melakukannya? tanyanya lebih lanjut.

Tidak keduanya, sahutku singkat.

Hmmm, apa anda mengenal saudara Tomi?

Saya baru saja mengenalnya pas hari kejadian.

Tapi mengapa anda memberinya mobil anda untuk dibawa pergi? tanya sikurus dengan tajam.

Karena mobilnya ada didalam dan tidak bisa keluar, sahutku pelan.

Anda tidak takut mobil anda dicuri? tanya si gemuk sedikit sinis.

Tomi ini juga punya mobil yang mungkin lebih mahal dari mobil saya, eh, mobil Frans, jadi tinggal tukar saja nantinya kan? sahutku sambil tersenyum kearah sigendut.

Darimana anda tahu? tanya sikurus dengan tajam.

Dia kan termasuk salah satu anggota klub mobil yang menyewa Bidadari Massage, kataku sedikit ragu.

Tapi anda belum pasti bukan? tanyanya lebih lanjut.

Aku terdiam.

Kalau kupikir dia memang belum pasti punya mobil.

Dan mobil yang terbakar itu punya Saudara Frans? tanya polisi kurus sambil menaikkan alisnya.

Eh, iya…

Apakah benar anda berhubungan seks dengan saudari Nia di meja resepsionis? tanya si polisi kurus dengan datar.

Sorot matanya membuatku sadar.

Percuma berbohong dengan orang seperti ini.

Benar, sahutku singkat.

Dan benarkah jika saudara Tomi datang ketika anda berdua masih melakukannya?

Benar.

Dan benarkan dugaan saya, kalau anda memberikan kunci mobil anda agar anda bisa melanjutkan lagi kegiatan anda secepat mungkin? tanyanya dengan terseyum.

Aku hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaannya.

Apakah anda mempunyai kecurigaan siapa yang melakukan ini semua? tanya lebih lanjut.

Sampai saat ini belum pak, jawabku dengan pelan. Rasa sakit mulai terasa diperut sebelah kiri.

Tak sadar aku mengernyit pelan.

Melihat keadaanku, sikurus lalu memberi isyrat kepada si gemuk untuk keluar.

Kalau begitu terimakasih atas keterangannya, kami permisi dulu, kata sikurus sambil melangkah keluar.

Kuamati kepergian mereka dengan pikiran yang bercabang.

Belum, belum saatnya memberitahu mereka, pikirku.

Galang POV

Lang, apa kau tidak merasa dia menyembunyikan sesuatu? tanya Herman ketika kami keluar dari ruangannya Andri.

Hmmmmm, dehemku singkat.

Aku jadi semakin bingung, jangan-jangan kasus ini tidak ada hubungannya dengan kematian Ade? lanjut Herman tak sabaran.

Terlalu kebetulan kalau kejadian ini tak berhubungan Her, tanyaku singkat.

Sekarang kita kemana?

Pulang dulu, aku mau mandi dulu, sahutku pelan.

Dasar orang aneh? Kenapa tidak tadi saja mandi hah? tanya Herman dengan nada kesal.

Tadi masih ada iparmu itu, aku takut kejadian seperti kemarin terulang kembali.

Dan perlahan, kejadian malam kemarin mulai terlintas dikepalaku,

Saat Mirna dan Tasya…

Author: 

Related Posts